Home > Nyampah > Anjing dan Tahlilan

Anjing dan Tahlilan

Sebelum berita di TV, mengenai demo yang melarang sebuah majelis untuk mengadakan pengajian akbar sekaligus pembukaan cabang barunya di Kudus, saya sudah mendengar kabar dari teman saya yang ikut langsung di acara tersebut. Namun, pemberitaan di TV agak lebay, katanya dibubarkan, padahal yang betul acara sudah selesai dan memang bubar dengan sendirinya. Berita TV tidak menyebutkan ormas yang dimaksud. Mereka ialah PMII dan Banser NU. PMII itu organisasi apa saya juga ndak tahu, malas googling juga, kalau Banser NU jelas sayapnya NU. Konon, beberapa orang NU terkenal karena pluralisnya, seperti Gus Dur dan Ulil.

Majelis yang katanya pengajiannya dibubarkan itu namanya MTA, Majelis Tafsir Al Quran yang berpusat di Solo. Saya suka pengajiannya, ustadznya pintar-pintar. Setiap minggu di Mangkunegaran pengajiannya selalu penuh, ribuan orang hadir. Tidak gampang mengumpulkan massa berjumlah ribuan untuk pengajian. Untuk dangdut koplo mungkin mudah. Walaupun saya suka pengajian MTA, tapi ada beberapa hal dalam berislam saya kurang cocok, seperti sholat tarweh 11 rakaat dengan formasi 2-2-2-2-3, saya lebih suka 4-4-3. Mengenai penentuan hari lebaran juga sering kurang cocok, karena MTA ini selalu mengikuti pemerintah dan biasanya berbeda dengan Muhammadiyah. Ya, saya kader Muhammadiyah, tapi saya juga selalu mengikuti pengajian MTA.

Kenapa MTA didemo dan dilarang pengajiannya di Kudus? Menurut siaran berita di Trans berdasarkan wawancara langsung di tempat, ialah mengenai anjing yang katanya dihalalkan oleh MTA dan mengenai tahlilan yang enggan dilakukan oleh MTA.

Pertama mengenai anjing, kebetulan saya pernah ikut langsung pengajian MTA ketika membahas anjing. Memang mereka sedikit berbeda pendapat dengan beberapa pemahaman yang lain. Dari kecil kita sudah dicekoki dengan betapa haramnya anjing itu. Begitu kena liurnya harus dicuci 7 kali dan salah satunya dengan tanah. Ada cerita menarik ketika kos di jogja, teman saya muslim memelihara anjing di kos. Setiap selesai memegang anjingnya teman saya itu malah membersihkannya 7 kali dengan tanah semua. Padahal pelajaran waktu kecil dalam membersihkan liur anjing, yang menggunakan tanah itu hanya sekali dan bebas mau diletakkan yang pertama ataupun terakhir. Lucu aja, hehehe. Nah, bagaimana pandangan MTA tentang anjing ini? Liur anjing yang terkena badan tidak haram dan tidak harus dicuci 7 kali, kecuali jika liur tersebut mengenai tempat (bejana, kata dalah hadits) air. Apabila bejana air terjilat maka bejananya wajib dicuci 7 kali. Sang ustadz berpendapat tidak menemukan hadits lain selain bejana ini saja. Bahkan ada hadits shahih mengenai halalnya hewan buruan yang ditangkap dengan anjing. Maksudnya ketika berburu, sebelum melepas anjing membaca bismillah maka halal daging buruan tersebut. Tentu saja hewan buruan itu tergigit anjing dan liurnya pasti kena. Namun, dalam hadits tersebut tidak diperintahkan untuk mencuci 7 kali alias boleh langsung dimasak dan dinikmati. Nah, berpegang pada hadits ketika berburu inilah maka sang ustadz tidak mengharamkan liur anjing, bahkan dicontohkan misalnya ketika akan ke masjid dan ditengah jalan terkena liur anjing maka cukup dibersihkan liurnya tanpa harus mengulang wudhu. Liur anjing tidak membatalkan wudhu. Akan tetapi ini masuk akal juga, seandainya ada hadits ini maka jaman Nabi dulu juga memelihara anjing. Seandainya memelihara tentu serawungan juga, tetapi tidak pernah disebutkan apakah Nabi memelihara anjing. Maksud saya sejak jaman dulu anjing sudah menjadi hewan peliharaan dan Nabi tahu itu, sehingga ada hadits tentang berburu menggunakan anjing. Menurut saya masuk akal, tapi kalau yang lain tidak cocok ya tidak masalah. Saya jadi bisa melihara anjing, xixixixi. Jadi mungkin yang dimaksud pendemo tersebut ialah perbedaan pandangan mengenai anjing ini.

Mengenai tahlilan, sebetulnya bukan MTA saja, Muhammadiyah juga tidak tahlilan. Tahlil itu kalimat yang harus selalu diucapkan sebagai pengingat pada Allah SWT. Bahkan jika di akhir hayat mampu mengucapkannya dijamin surga. Akan tetapi, tahlilan sebagaimana yang dilakukan memang tidak ada tuntunannya. Prof Quraish Shihab juga mengatakan memang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan tradisi budaya NU. Said Agil di TVOne pun pernah mengatakan hal yang sama. Jadi telah ditegaskan, tahlilan ialah tradisi budaya yang baik, jadi bukan merupakan suatu ibadah. Ibadah yang diada-adakan itu bid’ah. Urusan ibadah cari tuntunannya, urusan dunia cari larangannya. Maksudnya segala hal ibadah ikuti Nabi dan harus ada tuntunananya. Jika ibadah tidak ada tuntunannya maka termasuk bid’ah. Bid’ah itu finnar kata al ustadz. Contoh, sholat magrib jika dikerjakan 4 rakaat maka termasuk bid’ah. Karena tuntunannya magrib ialah 3 rakaat dan sholat magrib ialah ibadah. Mengenai urusan dunia cari larangannya. Misalnya pakai ponsel, ini bukan bid’ah karena bukan termasuk ibadah. Ini termasuk dalam urusan dunia yang tak ada larangannya maka halal. Hal ini berlaku untuk hal-hal duniawi lainnya. Jadi bid’ah atau bukan itu apakah termasuk ibadah atau bukan. Jadi, menurut saya pribadi, tahlil jika memang tradisi kultural maka bukanlah bid’ah.

Jangan menyalahkan pendemo, mereka sedang ber’ibadah’. Mereka sedang menjaga keluarganya dari paham lain yang tidak cocok. Hal yang sama mungkin saya lakukan jika mereka mengajak-ajak keluarga saya untuk tahlilan. Kalau hanya tahlilan di deket rumah saya tanpa mengajak-ajak keluarga saya, sama sekali bukan masalah dan silakan saja. Dan setahu saya MTA itu kalem, tidak suka mengajak atau memaksa ikut paham mereka. Bagimu amalanmu bagiku amalanku.

Oya, soto kudus sudah tidak enak lagi di lidah saya!

  1. ady gooner
    29 January 2012 at 10:22 | #1

    Saya adalah warga MTA, dan sudah sangat biasa di tentang di masyarakat, dan kasus di kudus adlh sbgian kecil saja potret yg di terima oleh MTA selama menjalankan dakwah.. Dalam alquran saya lupa suratnya ada ayat yg intinya ” bila kamu menjalankan agama islam dgn benar maka sunatullahnya adalh km akan mendapatkan tentangan dr warga dan lingkunganmu karna ke islamanmu”

  2. hery
    29 January 2012 at 17:19 | #5

    Salam Damai Buat Saudara SAIPUL ANAS

    Saya bukan warga MTA, tp dari kecil keluarga dan lingkungan saya warga NU.

    Setahu saya yang meresmikan gedung pusat MTA itu Presiden RI yang dihadiri Ketua MUI Pusat, Ketua NU Pusat, Pangdam dll. Tp kenapa pengurus NU daerah malah kayaknya lebih pinter ya …….
    trus ngajinya dimana n ama kyai mana tu mas SAIPUL ANAS …

    Wassalam

  3. 29 January 2012 at 20:40 | #7

    Sejak kecil keluarga saya sudah jadi warga MTA, sekarang tinggal jauh dari keluarga, kebetulan masjid yang dekat tempat tinggal milik Muhammadiyah, kalau ikut taraweh disitu 2-2-2-2-3.

    • 30 January 2012 at 06:32 | #8

      huehuehueheu

    • Wijaya Kusuma
      29 April 2013 at 10:17 | #9

      Wah Saudara Hadi Satari, otak saudara sudah tercemar MTA kemungkinan anda pengetahuan tentang agama masih lemah, makanya setiap tindakan MTA jadi pegangan saudara, sebelum terlanjur bertobatlah.

  4. atik
    30 January 2012 at 06:17 | #10

    Assalamualaikum..
    Alhamdulillah, seneng bacanya, meski jnengan bkn warga MTA murni (maaf kl sy pake istilah ini) tapi jnengan bisa melihat dng prespektif yg objektif dan (menurut saya) adil. Saya sendiri jg belum menjadi warga MTA tp ayah saya yg sudah dan rumah ayahpun sdh dijadikan tempat kajian.. Dan saya jg merasakan betul bagaimana “sifat” kajian MTA ini, yg bener menurut mas anas.. Santun dan tidak memaksa. MTA memang pd prinsipnya hanya melakukan ibdah yg ada tuntunanya,baik itu Al qur’an maupun al hadits (itupun yg shahih). Dan setahu sy jg tdk prnh memusuhi saudara2 sesama muslim dr aliran lain.sehingga saya sangatlah heran jika dimana-mana ada yg mendemo dan memusuhi MTA.. Menurut saya itu hnylh gambaran dr ketakutan dan jealousy yg berlebihan krn smakin banyak umat yg mengikuti kajian MTA.
    وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ
    .

  5. 30 January 2012 at 21:52 | #12

    mestinya yang gak sepaham….ya gak ikut, gitu enak.Jadi, tidak harus pakai demo segala…kayak kurang kerjaan. Kepalanya harus dikompressss pakai es…biar dingin ….pikirannya biar nalar!!!!!!!!!!!!!!!!.

    • 30 January 2012 at 23:25 | #13

      huehuehue

      • 19 April 2012 at 12:23 | #14

        ikhwan tatak@gak sepaham tapi tidak juga harus menyerang organisasi lain mungkin akan lebih bijak dan mnjadikan MTA besar.hehehe

  6. semangat
    31 January 2012 at 13:41 | #15

    Makin banyak yang dijelaskan halal/haramnya, anggota TNI makin senang. Penting ketika ada kegiatan tentara untuk survival di hutan belantara. Boleh makan biawak ato tidak? Boleh makan kadal ato tidak? Boleh makan katak ato tidak? Boleh makan ular ato tidak?

  7. 3 February 2012 at 11:18 | #17

    Saya NU sejak kecil, masa remaja tinggal di kudus, dan tahu persis budaya warga kudus dan kebetulan dapat istri warga asli MTA, tapi asyik2 aja. Soalnya saya NU yang rokenrol. Jadi yambung ndak nyambung yang penting injoi Gan. Termasuk koment saya ini..

  8. Dewa
    6 February 2012 at 09:32 | #19

    Heee….. heee… heeeeee……
    Bravo buat Om tatak sama Om Ahmad
    “mestinya yang gak sepaham….ya gak ikut, gitu enak.Jadi, tidak harus pakai demo. . …”
    “. . . Jadi yambung ndak nyambung yang penting injoi Gan. . . . ”
    kata alm. Eyang Gus Dur “……Gitu aja kok Repot !”
    Ayo Bersatulah Indonesiaku

  9. Suaranetral
    16 March 2012 at 08:57 | #20

    Saya 16 tahun,mungkin msih trlalu muda utk urusan seperti ini.tapi saya dbesarkan di lingkungan unik mas,ada NU,MTA,Muhammadiyah,bahkan LDII.Saya jg tidak tau ikutan yg mana.
    Tapi kalo boleh saya bicara,sudahlah hentikan saling melecehkan.memperkuat pendapat itu jg sama dgn melecehkan yg lain. Malu mas,malu sekali kalau Kanjeng Nabi SAW saat ini melihat umatnya seperti kita. Semua aliran itu baik og,yg jelek itu yg merendahkan yg lainnya.malu saya sama temen2 NU,MTA, dan Muhammadiyah.semua merasa paling benar.
    O iya mas, mau kudus,lamongan,atau manapun,soto tetep makanan favorit saya.tapi kalau soto daging anjing,saya pikir2 dulu!

  10. zein aliem
    3 May 2012 at 00:45 | #21

    sy asli arema malang, disana aman2 sj ,yang penting tdk merasa paling benar,lantas membidahkan sebuah tradisi yg mereka yakini kebenarannya,biarlah mrk lakukan apa yg mrk yakini asal tdk memaksa yg lain mengikutinya…amankan…sing kurang ajar adalah..menyalahkan yg lain pdhl dia tdk cukup meguasai ilmu scra kaffah, tp hnya sepotong2, itupun dari buku2 terjemahan..sj….jancoooooooook. …!!!

  11. zein aliem
    3 May 2012 at 01:18 | #22

    klo ada orang yg sok bener,sok cerdas, arogan,suka mbidah2kan,sok intelek, jgn dihadapi dngn debat, krn mereka di doktrin skaligus di bina “ngaji” untk nyalahkan orang lain,jd langsung ae disembelih hidup2 anjing aja halal katanya… kan di alquran nggak ada hukum manusia itu haram di makan…….dasar wong goblok bergaya pinter…

    • hamba Allah
      13 December 2013 at 10:55 | #23

      itu seperti kata-katanya marjuki.. wah, terserah syndrome marzuki lovers… :v

  12. ali imron
    28 June 2012 at 19:36 | #24

    yg pnting kita ati2 sama pengaruh WAHABI…

  13. no name
    14 July 2012 at 23:44 | #25

    mengapa MTA banyak ditentang oleh masyarakat?
    karena mereka MTA itu berhaluan pada MADZHAB WAHABI.
    smemtara itu,kita tahu bahwa Paham WAHABI itu bisa merusak AKIDAH AGAMA ISLAM, bahkan yg lebh parah lagi bisa meusak suatu negara dari dalam. jika anda yang membaca komentar ini, saya mengajak kpda anda untuk tidak membiarkan MTA berkembang karena tidak hanya akan merusak agama islam tetapi juga akan merusak keutuhan NKRI, marilah kita belajar dari kasus-kasus dari suat daerah yang kemasukan paham WAHABI. banyak dari mereka hancur berantakan dan akhirnya dikuasai oleh Kaum Yahudi. yahudi sangat berperan besar dalam perkembangan MTA. banak dana yang mereka kucurkan,karena jika itu berhasil maka kencuran islam telah didepan mata. oleh sebab itu tentang terus ORGANISASI yang berhaluan pada WAHABI, tidak hanya MTA saja

    • duwek
      17 November 2012 at 09:20 | #26

      “yahudi sangat berperan besar dalam perkembangan MTA. banyak dana yang mereka kucurkan”
      saya tidak setuju sama kalimat ini..memang saya adalah warga MTA, saya sudah sejak umur 5 tahun diajak ibu ngaji di MTA. selama saya ngaji di MTA dalam melakukan kegiatan-kegiatannya MTA tidak mendapatkan kucuran dana dari siapapun…semuanya dibiayai sendiri( murni dari umat). sebagai salah satu bentuk pengamalan dalam mengaji tentang kesadaran bersedekah dijalan Allah SWT setiap warga MTA sudah mempunyai kesadaran untuk mengeluarkan sedikit hartanya untuk infaq FISABILILLAH. sebagai contoh dalam membangun gedung pengajian yang berada di Mangkunegaran itu saya sendiri merasakan betapa kuatnya tekad semua warga MTA dalam berinfaq dijalan Allah dengan menyanggupkan semampu mereka untuk membangun sebuah gedung yang begitu megah yang digunakan pengajian setiap minggu.
      saya sendiri ikut andil dalam pembangunan gedung tersebut( ya walopun g seberapa) tapi jika semua warga MTA mempunyai satu tekad yang sama maka sebesar apapun pasti bisa diangkat dengan berjamaah..
      nyatanya pembanguna gedung yang menghabiskan dana sekitar 8M bisa di rampungkan.
      karena itu buat media dakwah maka saya beranggapan itu juga termasuk dalam FISABILILLAH..jadi kita(warga MTA) g setengah-setengah dalam mengamalkan hasil kajian saya..
      jadi kalo ada yg beranggapan MTA mendapatkan kucuran dana dari luar itu statment yang tdk ada alasannya. karna saya merasakan sendiri suka duka ngaji di MTA.

    • tejo
      20 July 2013 at 22:29 | #27

      arab saudiitu wahabi tulen tapi ya tetap jaya

      • Yudha Nhara
        29 September 2013 at 03:36 | #28

        Selama saya ngaji bersama Wahabi yang dibawakan adalah Al Quran wa sunnah,itupun tidak ditafsirkan sendiri,tetapi dengan tafsiran Shohabat,Tabi’in,Tabi’ut Tabi’in,Ulama salaf termasuk Imam syafi’i & Ulama syafi’iah.memang ada sebagian kelompok yang sama pakaian & penampilan tetapi dalam pemahaman berbeda,yang sangat keras menentang pemerintah,melakukan teror,dll,Jika mengikuti Al quran & sunnah dengan pemahaman para sahabat Tabi’in,Tabi’ut Tabi’in,Ulama salaf dianggap wahabi,maka Alhamdulillah,celaan kalian tidak akan membawa madhorot apa apa bagi kami kecuali kedengkian & penyakit hati kalian yang semakin bertambah.

    • Yudha Nhara
      29 September 2013 at 03:28 | #29

      Jika Wahabi Yang dimaksud adalah Gerakan Syaikh Muhammad Bin ‘Abdul Wahhab yang berusaha mendakwahkan tauhid & memberantas Bid’ah,dibilang berbahaya,maka dimana letak bahayanya?Baca kitab kitab beliau,Lihat dalil dalil yang ada didalam kitab tersebut.Wahabi tidak ada hubungannya dengan yahudi kecuali bahwa Yahudi Musuh Islam.Yang berbahaya adalah syiah.Silahkan tengok saudara saudara kita di Irak,Iran,Suriah dan dimanapun Syiah berkuasa disanalah Umat Islam dibantai.Coba sebutkan bukti bahwa Wahabi membantai umat Muslim,Jika ada orang yang dianggap Wahabi menyimpang dari Al quran wa sunnah maka itu tanggungan dia sendiri & dia yang akan bertanggung jawab dihadapan Allah kelak.

      • dakir@
        27 October 2013 at 22:29 | #30

        dul wahab itu berkonsfirasi dg inggris untuk bntai para sufi dan hancurkan khilafah ustmaniyah di turki

    • mtanumuhammadiyah
      8 January 2014 at 01:05 | #31

      nyimak..!!

  14. cacelia rianti
    9 October 2012 at 06:55 | #32

    @mas:tahlilan adalah bid`ah,karena tahlilah adalah ibadah menurut mereka,karena disitu ada doa,ada bacaan al qur`an dan disitu ada harap yaitu pahala dan tahlilan tidak ada dalilnya.mengenai daging anjing pendapat jumhur ulama mengharamkan.salah satu argumennya diambil dari dalil ushul bahwa:jika uang hasil penjualannya diharamkan maka dzatnya juga diharamkan.dan ustadz ahmad sukina(mta) dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau,saya merasa beliau tidak berlaku seperti ustadz tetapi seperti ulama dalam menjawab pertanyaan.misal jika beliau ditanya masalah hukum misalnya,beliau akan menyampaikan satu jawaban dengan dalil tanpa diterangkan semua ulama sepakat atau suatu masalah terdapat khilaf diantara ulama.kalau tidak hati nanti pengikutnya menjadi taqlid dan fanatik golongan.contoh coba tanyakan kepada beliau masalah isbal,musik,gambar,kesurupan jin,tenung santet dll.

    • zen
      7 December 2013 at 14:25 | #33

      kalo belum tau makna dan maksud tujuan tahlilan jangan membid’ahkan dulu……………ngaji dulu pada kiyai NU jangan hanya di MTA saja apalagi hanya seminggu sekali lewat radio cobalah……itu ilmumu baru sedikit sekali ……..

  15. 9 October 2012 at 14:37 | #34

    KALAU BELUM TAU MAKNA SESUNGGUHNYA TUGAS SEBAGAI MANUSIA DIMUKA BUMI INI, MAKA JANGAN GAMPANG MEMBERI NILAI SALAH ATAU BENAR.KEBENARAN HAQIQI HANYA ALLOH SAJALAH.TUGAS MANUSIA BUKAN MENILAI MANUSIA TAPI IBADAH KE TUHAN. PASTIKAN ANDA TAU TUGAS MANUSIA SBG ABDUN, HAMBA , KHOLIFAH,MULIA DAN BAHKAN MANUSIA ITU JAHULA,GHOFLAH, DOIFA. WAMAA KHOLAQTUL JINNA WAL INSA ILLA LIYA’BUDUUN: PAKEMNYA JADI MANUSIA ITU IBADAH 24 JAM PENUH/HARI, SEMUA KEGIATAN APAPUN BISA BERMAKNA IBADAH…MAAF, BAGI YG SUDAH TAU , KALAU YG BELUM TAU YAA BERDOALAH KPD ALLOH SWT, DENGAN IHTIAR TOLAB ILMI DAN MENCARI GURU MURSID. YG PENTING TAU KITA DARI MANA? APA TUGAS KITA DI DUNIA?, KITA MAU KEMANA? YG JELAS MASIH ADA ALAM QUBUR DAN AKHIRAT. KITA PANDAI , TAU ILMU DSB HANYALAH DARI ALLOH. , MAKA BERSANDARLAH SEGALA SESUATU KPD ALLOH SWT. WALLOHU A’LAM BISSOWAB.

    • Raka
      7 May 2013 at 10:59 | #35

      Semua yang saudara tanyakansudah terjawabklo saja saudaramendengarkan radio MTA

      • Abidin
        31 May 2013 at 09:22 | #36

        Banyak radio MTA yang gelap tidak berijin mengudara 24 jam nonstop, kalu begini ikut berdosakan orang-orang MTA ….

  16. ali
    11 October 2012 at 20:45 | #37

    Kalo terbitnya buku biasanya disusul dengan acara bedah buku. Ini munculnya MTA (Majelis Tafsir Al-qur’an), bagaimana kalo dilakukan bedah tafsir ala MTA, bagus ga? hehehe ……….

    • Asukino kemplu
      13 November 2012 at 11:50 | #38

      emang Mr. A.sukino pinter tafsir ? coba tanya dulu pelajaran tafsir waktu kuliah dapet berapa ? apalagi nahwu sorof sebagai alat untuk membaca tafsir. Nol dia

    • Cucu MTA
      8 May 2013 at 10:54 | #39

      Sukino itu tidah bisa baca Al-qur’an dengan fasih apalagi baca kitab kuning Buchori Muslim lihat saja sudah pusing apalagi suruh membaca. Coba perhatikan kalau jihat pagi yang membaca Al-qur’an kan orang lain, pingin tahu tidak permasalahannya sukino itu glepotan kalau baca Al-qur’an. Sekarang kita amati para Ustadz2 yang lain kalau pas memberi pengajian kalau membaca Al-qur’an yang membaca kan beliau sendiri. Wah kalau mengikuti terus MTA rusaklah aqidahnya

  17. anto
    14 November 2012 at 12:57 | #40

    bagi g yang penting beribadah sesuai dengan ajaran nabi,yang kita ketahui dari guru guru kita berdasarkan dalil dan dirasa itu cocok dan sesuai dengan hati nurani,kalau MTA,NU,Muhammadiyah cuman organisasi dunia dan orang orangnya juga manusia biasa yang penuh dengan khilaf,artinya tidak ada kebenaran yang mutlak.Lain dengan zaman rosul yang pasti semua keterangan itu mutlak kebenaranya.Jadi dalam beribadah boleh saja memakai yang desepakati di MTA, atau NU, juga muhamadiyah,yang penting sesuai dengan kemampuan kita dan ada dasarnya….jadi untuk sekarang sudah tidak ada lagi kebenaran mutlak yang berasal dari aliran tertentu di Indonesia

  18. bajul ijo
    17 November 2012 at 09:48 | #41

    sing penting jo podho jotos2an… solw…solowwwww minum dlu biar ga’ panik….

  19. khalid
    20 November 2012 at 09:00 | #42

    dari dulu NU dengan ormas agama yang lain selalu kayak gitu. . . . .
    jadi harap maklum

    by: pengamat ormas islam
    soto kudus gak enak gak papa mas,masih ada tim lo solo yang lenih enak :D

  20. 13 December 2012 at 16:09 | #43

    Keputusan Masalah Diniyyah NU No: 18 / 13 Rabi’uts Tsaani 1345 H / 21 Oktober 1926 Tentang
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA : Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH , apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.
    `
    Keterangan :
    1. Dalam kitab I’anatut Thalibin, Kitabul Janaiz : MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”Kami menganggap berkumpul di ( rumah keluarga ) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    2. Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan : “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?
    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    “Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN ORANG-ORANG BODOH” agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris). ”

    SUMBER: AHKAMUL FUQAHA, SOLUSI PROBLEMATIKA HUKUM ISLAM, KEPUTUSAN MUKTAMAR, MUNAS, DAN KONBES NAHDLATUL ULAMA (1926-2004 M), hal. 15-17, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

  21. 13 December 2012 at 16:10 | #44

    Lebih lanjut di Kitab I’anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu’in, juz 2, hal.145 –Kitab rujukan Nahdlatul Ulama (NU) – disebutkan:
    نَعَمْ , مَايَفْعَلُهُ النَّاسَ مِنَ اْلإِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلىَ مَنْعِهَا
    “Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID’AH MUNGKARAT yang bagi orang yang mencegahnya akan diberi pahala.”

    Jadi, apa bedanya Muhammadiyah, NU dan MTA dalam perkara tahlilan / kenduri kematian ini?

    • umat_dhoif
      11 January 2013 at 15:48 | #45

      ini yakin neh kaya bgni?hoii….. kalau ngutip jgn ngawur….. ini cuma potongan jwaban seorg seikh ketika ditanya ttg sebuah kebiasaan disuatu daerah…nah kalau nte pengen tau kebiasaan apa yg dianggap bidah oleh seikh itu nte nukil kalimat2 depannya dikitab ini…..nte jgn mau dikibulin wahabi…merek suka motongin kitab

  22. perot
    7 January 2013 at 22:07 | #46

    ayo sama2 cari cara untuk mempertemukan k marzuki n k sukino
    untuk berdiskusi

    • Wong Tenan
      20 January 2013 at 11:39 | #47

      A. Sukino pasti nggak mau bro, dia pasti akan bilang agama tidak perlu didebatkan.

  23. fatima
    25 January 2013 at 12:22 | #48

    tapi mengapa kita manusia,tiada menyadari. Setiap perbedaan yang ada,menjadi tragedi,,.kita saling bermusuhan,kita saling benci,,..pertikaian peperangan,membawa kita pada kehancuran. Yang seneng setannya keplok keplok..,ta jamin.

  24. ohoi
    27 January 2013 at 23:52 | #49

    Hidup NU, hidup Muhammadiyah, hidup MTA. Mereka jujur dan tulus berdakwah. Waspadai mereka yg suka mengadu domba dg pertentangan yg tidak mereka pahami. Atau bahkan mereka sangat memahami tetapi tidak ingin umat kompak bersatu.Waspadai fitnah dengan klaim bantuan dan menakut-nakuti adanya ancaman paham kelompok tertentu yg sebenarnya sesama Islam, dan bercta-cita sama menegakkan kalimat Allah.

  25. sony
    5 February 2013 at 15:07 | #50

    lha wong kyai marzuki wae wes jaluk sepuro,,hehehehe kacian deh.ustad marzuki,justru sy merasa yg berbahaya itu mlah nu..kaya yahudi pokok,e ajran mbah2 biyen yo nginiki,takhlit karo nenek moyange,padahal jelas yen wong islam iku pedomane qur,an karo sunah kok jik ngeyel.cobo yasinan tahlil nggo wong mati 7hr,100hr,pendak 1 lan seteruse ono nggak dalile???

    • dhobit
      3 March 2013 at 00:43 | #51

      leh apus2 ko’ pinter bgt to kang.. Emge kyai marzuki kuwi kyai ngendi?hehehe. sampeyan iku ngaji wae durung becus ko’ iso nyalahke mbah2 mbiyen (termasuk mbah walisongo), Emange ilmune gurumu kuwi soko gone sopo nek gak songko mbah2 mbiyen, opo A.Sukino kuwi lahir lgsg pinter? mbok yo mikir.. hehehe. soal yasin tahlil iku ono dalile n shohih pisan, marai sampean kuwi kn bodo makane gak ngerti.. bk majmu’ fatawy 22/560, Alijtima’ adz-dzikr Asyaukani sh/5945) dan masih bnyk lg..

    • Sarkowi
      22 May 2013 at 09:05 | #52

      Wah Sony tukang fitnah tur goblok tenan, yang benar ya Ustadz Marzuki ,Sukino itu Goblok anyaran tidak bisa baca Al-qur’an dengan fasih dan baca kitab gundulan juga tidak bisa. Coba perhatikan kalau pas ada pengajian jihat pagi yang baca Al-qur’an pasti orang lain, permasalahannya Sukino tidak fasih membacanya.

  26. harry yanto
    22 February 2013 at 08:21 | #53

    tanpa mngurangi rasa hormat , kalo ustad sukina menyimpulkan seperti itu : apakah kencing manusia tidak najis….? karena dalam alquran juga tidak ada dalillya.

  27. al-fakir
    28 February 2013 at 14:36 | #54

    Poro sedulur-sedulur, tidak usah terlalu susah, sekarang ustad sukino itu nasnya dari mana? gurunya siapa harus jelas sanad dan matannya sampai kepada Rosululloh tidak. apabila semuanya jelas, pasti dia bisa sebutkan satu-persatu. semua orang bisa menafsirkan al-qur’an tapi yang bisa menafsirkan dengan ilmu hanya sedikit. sedikit-sedikit bid’ah. tuh jaman Rosulullah dakwah tidak pernah menggunakan radio, ampli, memakai mic, pakai jas apalagi kumisan tebal kaya sukino itu. Lha ini malah seenaknya aja bilang tahlilan itu bid’ah. Memang Muhamadiyah dari dulu tidak pernah mengadakan tahlilan namun mereka juga mendoakan keluarga yang meninggal, bahkan kami hidup berdampingan tidak pernah membahas masalah tahlilan, negara lain udah bisa buat jet….eeee ini malah sibuk masalah tahlilan.jelas-jelas, sumbernya dari Abdul Wahab, yang imamnya 10 hadist saja tidak hafal ko’ mau menafsirkan al-qur’an. kalau memang sukino punya ilmu yang lebih baik, seharusnya di adakan pertemuan ulama-ulama guna membahas dengan silaturahmi, forum-forum jadi semakin kelihatan ukuwah islamiyahnya.kalau anda semua tidak suka dengan tahlilan (jangan-jangan memang pada pelit tidak mau berbagi), silahkan itu hak anda, tapi jangan membid’ahkan urusan yang baik yang selama ini sudah terjalin di indonesia. yang perlu anda hilangkan adalah semisal : orang mitoni yang pakai menggambar cengkir, terus diganti dengan baca qur’an bersama itu saya setuju….bukan begitu….!!!! contoh Habib Munzir yang nyata-nyata sanad dan matannya sampai Rosulullah saja tidak memandang tahlilan itu bid’ah. sadarlah semua dengan ajaran-ajaran yang mempunyai kedok kembali ke Al-qur’an dan Hadist padahal sejatinya itu ajaran WAHABI. Emang siapa loe…….????!!!!! cucu nabi juga bukan berani seperti itu. semoga berkenan….

  28. Dzakir
    3 March 2013 at 00:12 | #55

    Nderek rembugan mas.. Kalau emg MTA mrs di dzolimi oleh ormas lain (Red:NU), mending sesekali diadakan forum silaturrahmi dan diskusi antara ustadz-ustadznya MTA dengan para ulama’ NU membahas hukum2 yang menurut MTA paling benar dengan cara menunjukkan dalil2nya dari referensi aslinya (bukan bersumber dari terjemahannya lo) secara komprehensif dan universal, sehingga obyektifitas akan terlihat mana dalil yang lebih kuat atau sebaliknya, beres kan! masalahe selama ini MTA gak pernah berani melakukan itu lo, tp beraninya hanya ma jama’ahnya ja yg dah kadung fanatik (dengan dalih “hukum gak perlu diperdebatkan”.hehe), ya otomatis gak akan ada yg mengkritik lah. Makane wjr ja kalo MTA mendapatkan byk kecaman, soale MTA itu emg ibarat katak dalam tempurung. MTA belum pernah menguji dalil2 yg khilafiyah yg mrk gunakan secara empiris melalui diskusi dengan para mufassirin maupun ahli fiqih ataupun dengan Ulama’ NU. Kalau MTA msh bersikap spt ini maka jngn heran kalau kecaman demi kecaman akan semakin keras trhdp MTA, krn MTA emg gak fair ko’. Af1 Katsir..

  29. miftahul huda
    28 March 2013 at 11:03 | #56

    nahh yang muring2 seperti ini yang menyebabkan NKRI bubar, diajak berbagi juga g mau wong sudah menutup hati untuk ilmu kok, sudahlah amalmu ya amalmu amalku amalku sendiri… okeyy jayalah negara jayalah bangsaaaaaaaaaaa…..

  30. luhur
    1 April 2013 at 16:38 | #57

    mta jalan terus….menegakan kebenaran pasti banyak tantangannya…

    • Wijaya Kusuma
      8 May 2013 at 10:44 | #58

      Jalan apanya rek, sampeyan itu pasti tdk memahami Islam, rek otakmu sudah dicuci oleh MTA. ASukino itu tidah fasih baca Al-qur’an apalagi kitab Kuning..bertobatlah mulai sekarang

    • Hasan
      22 May 2013 at 08:59 | #59

      Yang membela MTA pasti dapat supermi, Sukino baca Al-qur’an saja tidak fasih kok dibuat panutan. Mau dibawa kemana umatnya MTA.

  31. 10 April 2013 at 23:04 | #60

    mas lha ap dah gila anjing kok halal, terkena bejana aja bejananya dah najis apalagi terkena kulit……….yang membuat orang indonesia menjadi masuk islam adalah metode dengan tahlilan dan budaya2 yang dipadukan dengan islam, jika tidak ada itu mungkin anda sampai saat ini masih menyembah patung

  32. yanto
    17 April 2013 at 20:55 | #61

    Jangan Samakan MUHAMMADIYAH Dengan Organisasi Lain,,,Karena MUHAMMADIYAH Lain Dari Yang Lain

  33. ima
    10 May 2013 at 12:49 | #62

    Setiap orang berhak memilih jalannya sendiri. Kalau anda merasa dapat melindungi orang lain dari paham-paham yang anda anggap sesat sehingga selamat dari neraka,,maka sebenarnya untuk melindungi diri anda sendiri dari api neraka saudara sendiri sulit. Bisakah anda menjamin siapa siapa saja yang bisa masuk syurga? Bisakah anda menjamin kalau faham anda 100 % benar dan pasti membawa anda ke syurga? Saudaraku ,tidak baik menjelek jelekan orang lain hanya karena beda paham. Kebencian jangan dipupuk, tapi segera diganti dengan kasih sayang.

  34. wan wan
    22 May 2013 at 13:42 | #63

    Pun, sampun usah ontok ontokan.. Kalau beda jalani apa yang di yakini. Beda tidak harus bermusuhan. Berlomba2 dalam kebaikan kemawon. Beri hal yang positif dan bermanfaat untuk umat. Satu dengan yg lainnya tdk usah menghujat. Gak usah demo2. Iri tanda gak mampu. Orang NU, Muhamaddiyah dan orang yg ngaji di MTA yang saya kenal orangnya baik-baik, tidak seperti yang di kabarkan negatif disini.

  35. wan wan
    22 May 2013 at 13:57 | #64

    Pun, sampun.. Mboten usah ontok ontokan.. Kalau beda jalani apa yang di yakini. Beda tidak harus bermusuhan. Berlomba2 dalam kebaikan kemawon. Beri hal yang positif dan bermanfaat untuk umat. Satu dengan yg lainnya tdk usah menghujat. Gak usah demo2. Iri tanda gak mampu. Orang NU, Muhamaddiyah dan orang yg ngaji di MTA yang saya kenal orangnya baik-baik, tidak seperti yang di kabarkan negatif disini. Kalo bermusuhan, akan hancur smuanya.

  36. hairaimada
    3 June 2013 at 09:45 | #65

    Moga-moga kalian semua segera mendapat petunjuk Allah SWT, ingat kebenaran adalah milik Allah SWT semata jadi jangan sok jadi pembenar dari yang lain. Ingatg juga ini untuk urusan dunia semua itu boleh kecuali ada larangan, untuk urusan ibadah semua dilarang kecuali ada contoh. Semoga ini menjadi renungan bersama, amin…peace of all…

  37. 28 June 2013 at 14:17 | #66

    YA TIDAK AKAN ADA HABISNYA…………………………. IBADAH DASARNYA ILMU BIKAN BID’AH MEMBID’AHKAN KANG……………….. BUKAN DENGKUL MAIN GAPURUK-GAPRUAN……… GINI SAJA SAYA USUL sUKINO SEKALI-KALI DISKUSI DI PESANTREN DENGAN MEMBAWA REFERENSINYA YANG ASLI BUKAN TERJEMAHAN… SANTRI JUGA BAWA REFERENSI…………. MANA YANG LEBIH MAHIR BUKA REFERENSI ASLI SUKINO ATO SANTRI? PASTI SUKINO KENCING LARI TERBIRIT-BIRIT..

  38. Anak lanang
    3 July 2013 at 14:36 | #67

    Asukino ngaji be rk becus kok ddi pimpinan umat..
    Msih mending aku,, pekok, goblok, bodoh., tpi ttp cedak k2 ulama.
    ( AL ULAMA’U WAROSSATUL ANBIYA’ )
    wez ngono bae..

  39. Ali Sutarjo
    6 July 2013 at 21:40 | #68

    warga MTA memang sedang mabuk agama. Agama yang ditafsirkan dengan akal memang bisa gila. Bayi lahir di adzani, anda pasti bingung yang mau sholat siapa ? Tapi sebenarnya umat Islam yg menentang yg katrok, orang Nasrani dan yahudi saja masih di dalam kandungan sudah didengarkan musik. Doa orang hidup tidak sampai pada orang meninggal, kecuali tiga perkara..Tanyakan ustadmu, kalo Takhiyat baca sholawat apa tidak ? Siapa yang kamu doakan ?: Apa Bapakmu ? Lalu bagaimana dengan Sholat Ghaib…silahkan kontak saya kalo mau adu dalil akqli..jangan nantang Kyai jelas gak nyambung ..masa orang masih cari ilmu adu ilmu dengan guru…cukup dengan saya yang awam ini…Tlp. 085230301971

    • nizam azhar
      21 November 2013 at 12:42 | #69

      SANTE WAE LIK GAK SAH RIBUT DIGUYU SOKO GEREJA…

  40. ndoro bei
    8 July 2013 at 03:44 | #70

    Sampun sedoyo…..???
    Kulo sanes NU,MUhammadiyah,MTA
    Kulo tiyang islam…. Tiyang Islam puniko dipun warisi dening Rasulullah 2 perkara, inggih puniko Qur’an, kaliyan Hadits shoheh…. Liyane puniko kedah dipun kaji ulang, menawi amalan amalan enggal ingkang dipun damel dening ulama-ulama, kyai, wali, monggo dipun kaji malih, menopo ingkang kasebat ing inggil langkung pinter tinimbang Rasulullah??????
    Monggo sami ngaji ingkang saestu, ampun Taqlit
    Islam meniko Islam, mboten pareng di-jawakke, di-sumatrakke, mangke ndak ajoooorrrr….

    Sepindah malih FUCK PLURALISME!!!!!!!!!!!!!!

  41. daffa
    17 July 2013 at 13:43 | #72

    dari kecil mulai kelas 1-6 sd saya belajar di TPA NU, smu-perguruan tinggi di muhammadiyah, dan tidak pernah sekalipun diajarkan tahlilan, yasinan, semua itu hanya budaya agama hindu yang kebetulan dulu penyebarannya harus masuk sedikit-sedikit,.untuk menggeser kebudayaan lama, berangsur-angsur kebudayaan itu mulai melekat pada kebiasaan sampai sekarang, padahal dulu para sunan berpikiran bahwa dakwah ini akan diteruskan dan dihentikan penerusnya karena tidak sesuai dengan yang rasul ajarkan, kita beribadah harus hati-hati harus sesuai dengan ajaran nabi Muhammad SAW karena ibadah tanpa tuntunan itu adalah sesat..dan nilai ibadah yang selama ini kita lakukan akan sia-sia dimata Allah

  42. ali
    1 August 2013 at 20:44 | #73

    Inilah Tafsir MTA surat al-Baqarah : 173
    Terjemah surat al-Baqarah : 173
    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah : 173)

    Tafsir MTA memulai uraian tafsirnya dengan mengaitkan ayat ini dengan ayat-ayat Qur’an Surat:
    al-An’am: 145, al-Nahl: 115, al-Maidah: 3,
    kemudian menyimpulkan dengan Kesimpulan:
    Menilik ayat-ayat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa yang diharamkan Allah jika manusia memakannya hanya empat macam tersebut di atas. Oleh karena itu jangan ada manusia di mana saja dan kapan saja berani-berani menambah dari yang 4 tersebut. Karena dengan tandas pula Allah telah menjelaskan bahwa perincian itu adalah empat, seperti firman-Nya di surat Al An’am ayat 119.
    Artinya:
    Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (Al An’am ayat 119)
    Dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan:
    Akal siapakah yang membenarkan penambahan dari yang 4 macam yang diharamkan oleh Allah, bagi manusia yang memakannya?

    Untuk memperkuat hujahnya, MTA menyitir beberapa ayat dalam Al-qur’an surat:
    Al-Maidah: 87, Al-Nahl: 116, Yunus: 59, Al-A’raf: 32 yang diikuti dengan mengajukan pertanyaan:

    Dan masih beranikah manusia mengada-adakan atau berdusta atas nama Allah?

    Kemudian guna menguatkan hujahnya tentang ‘mengada-adakan’, MTA menyebutkan beberapa ayat Qur’an surat:
    QS. Al-A’raf: 37, Al-An’am: 21, Al-An’am: 93, Al-An’am: 144, Al-An’am: 157, Yunus: 17, Hud: 18, Al-Kahfi: 15, Al-Kahfi: 57, Al-Ankabut: 68, Al-Shaff: 7, Al-Sajdah: 22, Al-Zumar: 32.

    Sampai akhirnya pada pernyataan:
    Ada sementara orang yang mendasarkan penilaian haram-tidaknya makanan berdasarkan kriteria menjijikkan atau tidak makanan tersebut.

    Yang diperkuat dengan ayat: Al-A’raf: 157 yang dijelaskan dengan penjelasan sebagai berikut:

    Dalam ayat ini terdapat kalimat, “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik” (wa yuhillu lahum al-thayyibat), dan “Dan mengharamkan bagi mereka yang buruk-buruk” (wa yuharrimu ‘alaim al-khabaits). Banyak orang yang keliru memahami kalimat ini hingga memasukkan selain 4 hal yang diharamkan di atas sehingga memasukkan apa saja yang dipandang buruk. Hal ini tidak bisa dipakai dasar karena jika digunakan maka terjadilah perbedaan hukum atas hal atau sesuai yang sama. Contoh kasus ‘katak’. Katak di daerah Jawa Tengah dipandang menjijikkan, oleh karenanya dipandang haram memakannya. Hal ini berbeda dengan Cina yang memandang katak tidak menjijikkan, dan karenanya tidak haram atau halal. Jika kriterianya adalah “menjijikkan”, maka jelas dari kasus katak ini terdapat dua hukum yang berlawanan, yakni haram di Jawa Tengah, dan halal di Cina. Oleh karena itu, yang dimaksud ‘al-thayyibat’ dalam ayat di atas adalah “barang-barang/makanan-makanan yang dihalalkan,” sedangkan ‘al-khabaits’ adalah “makanan-makanan yang diharamkan.”

    Wal hasil yang haram itu hanya 4 macam. Apakah itu sesuai dengan selera manusia atau tidak, tetapi bagi konsekwuensi logisnya seseorang yang beragama Islam, maka selera dirinya harus tunduk kepada tuntunan Allah dan bukan sebaliknya. Dan yang lebih aneh lagi kalau orang kafir jahiliyah dahulu merasa putus asa terhadap agama Islam karena agama Islam mengharamkan makanan yang dimakan oleh manusia hanya 4 macam, tetapi orang-orang yang mengaku beragama Islam jaman sekarang ada yang naik pitam karena yang diharamkan oleh Allah hanya 4 macam.

    Kedudukan hadis yang diakuinya sahih, Benar hadis-hadis ini memang sahih, tetapi lantaran al-Quran telah membatasi hanya 4 macam makanan yang diharamkan tersebut, maka “… mungkinkah Nabi menambahnya?” tidak mungkin Nabi menambah selain 4 macam tersebut.

    • Yudha Nhara
      29 September 2013 at 03:44 | #74

      Al A’rof 157. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”
      Al Hasyr 7 ”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”
      Lantas bagaimana MTA melawan firman Allah ini??

  43. gusjan
    21 August 2013 at 07:33 | #75

    Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

    meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

    beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

    dewasa.
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do’akan

    sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

    mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan….

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Semua Sahabat Nabi SAW yg jumlahnya RIBUAN,

    Tabi’in dan Tabiut Tabi’in yg jumlahnya jauh lebih

    banyak, ketika meninggal, tdk ada 1 pun yg

    meninggal kemudian di TAHLIL kan.

    cara mengurus jenazah sdh jelas caranya dalam

    ISLAM, seperti yg di ajarkan dalam buku2 pelajaran

    wajib dr SD – Perguruan tinggi. Termasuk juga tata

    cara mendo’akan Orang tua yg meninggal dan tata

    cara mendo’akan orang2 yg sdh meninggal dr kaum

    muslimin.

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro

    putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

    monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

    wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul

    masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

    tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah

    nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan

    Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf…

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras

    dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

    Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

    • zen
      7 December 2013 at 14:55 | #76

      wah kayak sudah hidup mulai jaman anak dan sahabat nabi saja ………sok tau…………..

  44. asukino
    24 August 2013 at 14:13 | #77

    kalo MTA bilang anjing halal karena tidak ada dalilnya dalam qur’an, maka sembelih dan makanlah daging ustadz MTA karena tidak disebut keharamannya dalam Al Qur’an.
    Anggota MTA, bertaubatlah..

  45. Tri Widodo
    12 September 2013 at 20:19 | #78

    Saya sependapat dg MTA, walau bukan anggota mta dan muhamadiah,
    Saya akan slalu wasiat nabi Muhammad saw,
    Berpegang teguh Alquran dan hadis maka tak akan tersesat selama lamanya,
    InsyaAllah. Amiin

  46. 16 September 2013 at 09:49 | #79

    yg di bidahkan urusan ibadah bkan duniawi la wong nyari rongsok juga ibadah bagmana saudara…

  47. tris
    20 September 2013 at 06:47 | #80

    Saya dan semua penulis di kolom ini diCATAT MALAIKAT… dan seluruh balasan akan diterima di akherat kelak, siapa yang benar dapat pahala kenikmatan, siapa yang salah akan diganjar dengan balasan memilukan……kita tunggu semua hasil….apa niat kita nulis di sini, …mencari ridho ALLOH ….atau takut kehilangan …..dunia….

    • cakjf
      29 October 2013 at 11:38 | #81

      betul mas… nanti akan dihakimileh Yang MAha Adil…….

  48. galang
    28 September 2013 at 20:48 | #82

    Bener saya setuju

  49. galang
    28 September 2013 at 21:00 | #83

    Kh hasym ashari pastilah menangis kalu bisa melihat tingkah laku umatn NU yg arogan ky gt,,,kh wahid hasyim jg akn menangis melihat umat UN yg tak toleran,,kalaupun gusdur masih hidup beliau jg akn sedih melihat umat UN ky gini…saya warga muhamaddiyah tpi bangga dgn kh hasyim asyhari dan kh wahid hasyim,beliau sgtlah demokratis dan menerima perbedAan,,dahwah santun sehingga umat NU bisa sebesar ini….bersatulah wahai umat islam,,musuh kalian bukan mta tpi amerika dan israel

    • cakjf
      29 October 2013 at 11:37 | #84

      harusnya emang tidak boleh arogan…baik nu maupun yang lain….

  50. A sukino
    17 October 2013 at 19:53 | #85

    MTA ki pakanan opo ya

  51. 29 October 2013 at 23:42 | #86

    MTA emang okeh wong pinter,tapi keblinger .hadistny dhoiff tdk shahih.wong miara anjing malaikat ra gelem teko lek2,endi lek sukino kui.ora melu 3 kali ngaji wes diabsen,aneh belajar opo maksa hehehehehe.Allah gawe surga bukan nganggo 1 kelompok.tapi karo wong sing bertaqwa.

  52. 29 October 2013 at 23:57 | #87

    Nek tahlilan kulo setuju ora ono,nek sing siji ne kui.kirek koq iso,ati2 ojo seneng jd kiyai jd ustadz ,inget nek mati tanggung jawabpe gedi lho.okeh2 istifar sholat wengi njalok petunjuk .ojo ukor keabotan titel,karena hidayah udu uwong sing gawe nei.

  53. 30 October 2013 at 00:24 | #88

    Allah membuat surga bukan untuk ,NU,MTA,Muhammadiyah,LDII atau kelompok opo wae sing ngetop2lah,tapi surga diciptakn hanya untuk orang2 yg bertaqwa.

  54. 3 November 2013 at 20:02 | #89

    setuju banget saling introspeksi diri sendiri,,diakherat nanti kita ndak ditanya kowe nu po muhammadiyah po mta po BANSERep sing sok jadi jagoan benero dewe…sgl sesuatunya kita kembalikan pd alquran dan assunnah…ak ndak ikut ormas opo2 prinsip sy ikuti alquran sunnah..
    menurut ku ormas sing sak karepe dwe ora gelem dibenerno yo mung Numpang Urip Kwi,tp sy yakin ulama2 nu yg pinter2 gk kyak gitu…cuman didaerah2/ kampung…ea..maklum sdm nya minim..pemikiranya gak luas..mayoritas gwooblok2 gur anut2 tok…yang diikuti pengenne disanjung2..
    bapak saya almarhum juga tokoh NU tapi beliau sangat menghargai perbedaan, jadi bisa hidup rukun berdampingan, sedih lagi saya dengar berita BANSERep membubarkan pengajian mta yang mengkaji alquran sunnah…jane GO UTEX opo ora… malah malam natal BANSERep ikut jaga keamanan pa gk kebalik…. klo itu yang terjadi berarti BANSERep Kafir…!!!!!!!!!

  55. Rifai
    5 November 2013 at 13:51 | #90

    Yang benar itu NU klw mta sma muhammadiyah n wahabi gk suka nu biar lah urusi hdup mu sndiri

    • zen
      7 December 2013 at 22:14 | #91

      mas tak kabari ya malah di daerahku se kecamatan MTA sekarang hanya kira-kira 50 orang malah satu desaku hanya satu keluarga saja MTA tidak disukai orang . dulu pertama agak banyak hampir seratusanlah tapi setelah mendengarkan penjelasan tentang talilan mereka kelihatannya gak mau datang lagi di tempat binaan. malah aktif ikut tahlilan. ini sekaligus info buat teman2ku yang suka tahlilan gak usah risau dengan adanya MTA ajak saja dialog biar mereka semakin faham tentang aganya.

  56. nizam azhar
    21 November 2013 at 12:15 | #92

    WES TO OJO DO RIBUT, PODO ISLAM E, DISKUSI KOYO NGENE WES KETINGGALAN ZAMAN, UBLEG2 FIQH TAPI DO GAK MUDENG2..WONG KAFIR WES NGUASAI NDUNYO. SUWE2 LAH PAHAM NO. KRISTEN WAKEH NING KUDUS WAE DO MENENG KABEH. ISO DO MENENG RA??..KUDUS MU DO ENDI TAK PARANI SIJI2…

  57. fath
    17 December 2013 at 18:19 | #93

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

    “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali ‘Imran: 103)

  58. aruk
    31 December 2013 at 15:27 | #94

    dah pd sahalat blon?.., kalo udah shalat yg bener pasti tenang pikirane,,,

  59. hamba allah
    14 January 2014 at 03:51 | #95

    yang nulis orang jawa semua, banyak teks yg ga ngerti…
    tp siapapun anda.
    kita 1 keluarga “ISLAM” jd tolong jgn kaya debat kusir gt. kembalikan pd keyakinan masing2.
    semoga Allah merahmati kita semua dngan hidayahnya.

  60. M.Ilyas Yusuf
    17 January 2014 at 22:47 | #96

    Saya bukan NU, MUHAMMADIYAH, maupun MTA. Namun setahu saya dalam kegiatan tahlilan, disitu ada silaturahim, hal ini jelas ada tuntunannya, orang2nya baca alqur’an (yasin, surat al-ikhlas, dll), jg baca dzikir (LAAILAAHAILLALLAH, subhanallah), dzikir juga ada tuntunannya, biasanya juga ada shodaqoh makanan, ini juga tuntunannya, lalu apanya yaa..yang salah?????????

  61. 4 February 2014 at 09:02 | #97

    kita saling menghormati – siapapun anda , mo NU, mo Muhammadiyah ,mo MTA mo Syakbandiyah . . mo . . selama nabi, kitab & kiblatnya sama – kita BERSAUDARA ,, ayooo kita hormati cara berda’wah masing2

  62. umar wng nu se ra gmpng melu
    23 February 2014 at 08:13 | #98

    Kyaknya beda dah dari dulu. Kalo bgku agamaku dsblknxa. Kyknya ga pas. Sama2 islm. Tp bgmu amalanmu dsblknya.. Kami juga punya tntunan.. Dan bukn smbrngan thlilan.. Maslah crdas kyakya imam syafi-i juauuhh lebih alim. Wara. Tawadluk,dlsb.kmi mganutnya jg g smbrngn. Prlu prss mikr pnjg dst. Bsa d musywrhkn

  63. 11 March 2014 at 02:15 | #99

    Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku, Bagimu Amalanmu dan Bagiku Amalanku

    Duh enaknya kalau semua umat manusia mengetahui makna toleransi,
    negara akan aman dunia akan damai hanya karena permasalahan keyakinan.
    Apa susahnya sih bertoleransi ?
    Pemahaman suatu agama atau keyakinan bisa diawali dari lingkungan keluarga, kebiasaan, bacaan, teman bergaul dan ataupun guru-guru yang mengajarkan dia baik jalur formal maupun informal.
    Mengapa suatu daerah bisa damai, rukun dan saling bergotong royong walaupun banyak perbedaan keyakinan maupun agama dan mengapa pula di satu daerah selalu ribut karena beda keyakinan dan amalan. Hal ini sangat bergantung kepadai toleransi umat manusia yang mendiami daerah itu

    Memang prakteknya sangat sulit, tetapi kalau kita mempunyai hati yang bersih, suci Insya Allah hal ini sangat mudah.
    Kalau ada orang menasihati saudara seimannya, tak perlulah yang bukan satu pemahaman ikut-ikutan menasihati karena bisa salah paham. Keyakinan, pemahaman dan kitab yang berbeda serta situasi dan kondisi seseorang sangat berbeda jadi tidak perlu dibuat ribet dengan berdebat panjang lebar toh akhirnya kembali kepada diri kita lagi.
    Menasihati teman yang sudah satu iman mau dijalankan silahkan, tidak ya tidak apa-apa lha wong NABI saja tidak bisa merubah keyakinan orang.
    Yang bisa merubah keyakinan seseorang, yang bisa merubah orang mau menjalakan ajaranNya hanya Allah SWT saja. Nabi atau kita ini hanyalah menyampaikan saja.
    Dan cara menyampaikannya-pun harus dengan cara yang baik bukan dengan kekerasan atau pun paksaaan.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s