Yakin!

Sebagian orang memiliki keyakinan dengan melakukan bom bunuh diri, mereka akan masuk surga. Sebagian yang lain meyakini hal yang berlawanan, bom bunuh diri itu ujungnya neraka. Urusan keyakinan memang sulit disatukan. Sebagaimana kelas yang lain, mereka bisa saling mengutuk, memandang aneh dan macam2. Terpisah oleh kata ‘kami’ dan ‘mereka’. Kita juga bisa begitu, membentuk kelompok2 kecil, pertemanan khusus, persaudaraan sesuku, buat grup WA dll. Membangun tembok ‘kita’ dan ‘mereka’. Membuat kelas2 sendiri. Repotnya kalau tidak ada keadilan sosial. Bisa perang!

Advertisements
Categories: Nyampah Tags: ,

Malam kembang api

Malam kembang api. Bisa dimaknai macam2.
1. Pemborosan. Uang dibakar.
2. Wajah bahagia penonton gratisan, baik anak2 atau dewasa.
3. Gerakan uang ke pengusaha kembang api.
4. Anak2 yang kaget takut dengar suaranya.
5. Keringat pekerja pembuat kembang api.
6. Marah orang2 yang terganggu tidurnya.
7. Tawa girang pengusaha kembang api.
8. Sesuatu yang biasa. Ada tak apa. Tak ada juga tak apa.

Categories: Uncategorized

Malam puasa.

Malam menjelang puasa. Kudukmu merinding. Hatimu bergetar. Membayangkan sosoknya.

Malam menjelang lebaran. Aku mendatar lurus. Berlari terus. Meninggalkan lengahmu. Menagih penyesalan untuk malam tahun depan. Begitu terus.

Malam lebaran. Aku terus berlari. Masing lurus mendatar. Hatimu lega. Lupa yang kau rindu. Rasanya tanpa bekas. Tak mempan mengubahmu. Tak ada rindu lagi sampai malam menjelang puasa.

Categories: Uncategorized

Berputih tulang

Bude Yatmi, kakak kandung bapak, baru saja meninggal, 18 Mei 2017. Orangnya hangat.

Saya ingat betul, saat masih kuliah. Di acara keluarga yang ramai tamu, beliau mencium pipi kanan kiri saya. Hangat penuh kebaikan. “Anakku.” Bude bermaksud menjelaskan ke para tamu. Waktu itu saya malu. Saya rasa perlakuan itu hanya pada saya saja diantara keponakan yang lain. Karena jarang ketemu. Saya di Samarinda, Bude di Boyolali.

Saya sedih berat.

Beliau beragama katolik. Saya ingin sekali beliau Islam. Keinginan yang sama besarnya dengan (mungkin) keinginan beliau untuk mengajak kami keluarga besarnya untuk ikut beliau. 

Saya sedih.

Bude inilah yang biayai sekolah bapak saya. Uang gajinya yang tak seberapa itu disisihkan agar adik-adiknya bisa sekolah.

Selamat jalan.

Categories: Uncategorized

bicara, nulis, baca

Find three hobbies:one to keep you money, one to keep you in shape, and one to keep you creative

Tulisan itu saya dapat di akun Ig: @dagelan. Terjemahnnya adalah temukan tiga hobi: satu yang menghasilkan uang, satu yang membentuk (karakter), satu lagi yang membuatmu bisa terus kreatif.

Maksud tulisan itu yang saya tangkap, beruntung kalau orang punya satu hobi saja tapi bisa menghasilkan ketiganya: bisa bikin kaya, baik dalam pembentukan karakter, dan kreativitas tetap terjaga.

Yang kurang beruntung, seperti saya, untuk menghasilkan tiga hal itu hobi tidak sama. Tapi ya tidak sial juga. Untuk menghasilkan tiga hal itu, hobi saya masih berkelindan.

Uang saya dapatkan dari hobi bercerita. Saya senang bercerita. Dari bercerita di depan kelas inilah saya dapat uang. Saya selalu semangat kerja, hujan sekalipun. Walaupun kerjaan saya kalau saya tak datang pun tak dihukum, hehe.

Untuk hobi yang membentuk karakter, saya percayakan pada hobi membaca. Saya hanya membaca karya sastra saja. Saya percaya betul sastra akan membuat karakter saya jadi lebih baik. Yang paling banyak saya baca adalah novel dan puisi. Novel yang paling saya suka masih Wuthering Heights karya Emily Bronte. Menonton film juga termasuk perpanjangan dari membaca sastra. Pun saya hobi nonton film.

Urusan kreativitas ini yang agak rumit. Hobi apapun rasa-rasanya menuntut kreatifitas. Saya pikir hobi menulis saya bisa mewujudkan hal ketiga ini.

Bercerita, baca, dan tulis berkelindan satu sama lain. Berarti saya tak hobi mendengar, hehe.

Categories: Nyampah Tags: , ,

Puisi Sedunia

Hari puisi

Merdeka tuk berkarya

Atawa tidak

Categories: Uncategorized

Manusia Kardus

​Di tengah terik, anak kecil berjejer rapi. Mereka berjas institusi. Berkardus minuman, berpeluh malu. Tapi kayaknya tidak malu. Meminta-minta tangan menengadah. Mengais sisa. Menyambar receh.
Mana guru mereka? Tersilang persepsi, menutup pendapat. Guru ditiru palsu, kiamat tiba bagaikan kardus aqua bertulis “bantuan bencana alam”.

Dimana orang tua mereka? Bersebelah kemewahan mereka mengemis. Berpuisi cinta beriring kebiadaban peradaban baru.

Kanak ini tak paham masa depan. Lupa teori proyeksi. Pengemis muda berupa cermin. Terbentuk dari pecahan-pecahan kaca kecil berwajah tindakan. Ini soal masa depan.

Categories: Uncategorized