Archive

Archive for December, 2011

Iyakah?

Yang terjadi di Sampang, konon penyerangan terhadap terhadap syiah. Tentu saja tersangkanya sunni. Intinya mereka berbeda pemahaman. Saya bukan penulis yang baik, yang langsung cari data jika sunni syiah adalah bla bla, mereka bertempur sejak tahun bla bla, atau berdasarkan pendapat ahli si Mr siapa gitu asal kebarat-baratan namanya langsung saja di-quote. Saya sunni, berislam dengan cara Muhammadiyah, shalat tarweh 11 rakaat, tidak tahlilan, tidak 7 harian sampe 100 hari, tidak yasinan, takbiran 2 kali takbirnya. Sepanjang yang saya ketahui, syiah itu mengelukan Ali bin Abi Thalib, tidak mengenal jum’atan, sekarang berkembang di Iran, merayakan Ashura, tapi detilnya saya tidak paham. Jadi, intinya mereka berbeda paham. Sebagai sunni, saya tidak suka apabila ada orang menawarkan syiah ke keluarga saya, saya kira mereka pun juga begitu.

Selanjutnya mengenai kekerasan, apa tidak berlebihan sampai diserang pakai parang dan clurit. Beberapa orang saya nilai tergesa-gesa mengecam penyerangan. Apa iya mereka betul-betul benci kekerasan. Apa iya seandainya keluarganya diganggu mereka tidak angkat parang, lebih dalam lagi, bagaimana seandainya keluarganya itu ibuk. Saya tidak yakin yang mengecam kekerasan akan diam saja. Jadi, apakah sah kekerasan? Saya jawab, sah seandainya keluarga saya diganggu, maka si pengganggu akan saya kerasi. Bagaimana jika keluarga saya yang dikerasi? Ya, saya lawan yang keras terhadap keluarga saya.  Urusan benci itu urusan hati, otak tidak punya kuasa. Kalau dialog tidak bisa ya fisik, yang kalah ya kalah, yang menang ya menang.Toh dimana-mana slogan kalah menang itu biasa, nyaring terdengar.

Tapi saya tidak setuju jika penyerangan dilakukan karena yang diserang itu sedikit atau minoritas. Begitu pula jika alasannya ialah yang diserang itu salah. Berani-beraninya berlagak jadi Tuhan dalam urusan ibadah. Saya tidak setuju, tapi saya tidak berani menyalahkan penyerangan. Karena kalau saya kecam dan menyalahkan, akan berbalik pada diri saya yang  berlagak jadi Tuhan.

Seharusnya yang saya tulis itu mengenai pragmatik, dan hubungannya pada bidang penerjemahan. Bagaimana tuturan direktif dalam bahasa Inggris diterjemahkan pada bahasa Indonesia. Masih galau tesis! Dan nanti malam mau car free night, malam bebas kendaraan jadi ndak mungkin macet. Jokowi lagi!

Categories: Nyampah Tags:

Juve menang dan selembar ketikan

Entah giornata keberapa, yang penting Juventus 2 –  0 Novara, gol di cetak Pepe dan Quagliariella, salam capolista! Saya juventini, selalu berusaha untuk menonton setiap pertandingan juve. Seandainya pertandingan juve berbarengan dengan Barca vs Madrid, ndak ngaruh, saya juventini. Seandainya MU vs City jam 2 pagi, jelas saya ngantuk; tapi jam segitu juve melawan klub antah berantah, mata saya seger, saya juventini! Tidak perlu alasan untuk menyukai sesuatu, apalagi logika.

Seiring meredupnya serie A Italia, siaran langsungnya pun meredup. Indosiar hanya mampu menayangkan beberapa pertandingan, saya masih rindu RCTI dengan djarum super dulu menayangkan banyak pertandingan serie A.  Karena itu agar bisa menonton haruslah Nonbar. Bukan, nonbar ialah nonton bareng, lain nonton barca –yang penggemarnya menjamur seiring ganasnya permainannya, namanya juga jamur ya tidak awet, nanti kalau mulai kalah juga habis penggemarnya, berani taruhan? Di Samarinda, masih bisa nonton di rumah pake TV kabel Telkomvision biasanya nayangin, kalaupun mau nonbar di Kafe Djuragan Kopi, dengan rumah saya dekat, jalan kaki juga sampai. Di Solo, di Uno Kafe di pasar kembang, cuma tempatnya sempit kalau pertandiangan jam 8 malam biasanya padat pol, kalau gak di Toni Jack Purwosari di lantai 2.

Per 2 Oktober saya resmi menikah, saya tidak bisa meninggalkan istri buat nonbar, katanya takut sendirian. Awalnya repot juga, namun sekarang terbiasa nonton lewat twitter. Bagaimana caranya? Caranya ya sederhana, baca TL dari akun resmi Juventus Club Indonesia. Untuk itu, saya perlu OL di laptop, sehingga memungkinkan sambil buka file tesis yang terbengkalai jadi bangkai. Entah mengapa kemenangan juve ini bareng dengan munculnya setetes minat saya terhadap tesis, sehingga tercipta selembar tulisan Penerjemahan ialah. Sebetulnya tulisan cemen, cuma 3 menit jadi. Hanya quote lalu diterjemahkan dan kasih komentar seadanya. Akan tetapi jika tanpa passion sulit sekali, sebulan juga tidak jadi-jadi.  Passionnya sama ketika jam 3 pagi tidak ngantuk karena nonton Juve.

Apa hubungan Juve menang dengan tesis? Mana ada hubungannya. Cuma kebetulan. Seheran saya dengan ketika tidak ada pertandingan Juve, nonbar juga rame. Ngapain coba? Apa mereka tidak pengen tidur. Mampukah Barcamu? MUmu? Milanmu?

Masih dalam rangka galau tesis, tulisan ini tidak akan pernah runut dan apik, terus nyampah. Masih bersambung …

Categories: Nyampah

Sulit dan rumit

Yang seharusnya saya tulis itu tesis, tapi seperti penerjemahan, tesis itu sulit dan rumit, jadi nanti saja garap tesisnya. Sebetulnya sebelum kuliah S2 ini saya sudah bekerja di Bank dengan bonus tahunan 6x gaji, namun membosankan maka saya buang. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan tesis ini, muncul kerinduan untuk tidak kuliah, lebih baik kerja saja! Pokoknya asal tidak tesis.

Selain faktor malas yang menggurita, kesulitan dan kerumitan tesis bukan sekedar pengetikkannya, saya punya laptop dan koneksi internet yang mumpuni. Banyak aspek, bisa jadi si Profesor sulit ditemui, saking sibuknya seminar untuk mempertahankan eksistensinya. Bisa juga si pembimbing pelupa, sudah janjian dengan saya tapi ada janji lain yang lebih menjanjikan (duit). Dan masih banyak lagi penyebab sulit dan rumitnya.

“Tesis hanya akan selesai jika diketik, pokoknya ngetik”. Itulah nasihat dari Profesor pragmatik, yang saya jadikan motivasi. Sampai-sampai karena bingung apa yang akan diketik, halaman persembahan dan kata pengantar terlebih dahulu saya selesaikan, dan segera menyusul daftar isi. Konyol memang, tapi memang tesis itu menggalaukan. Sekedar tambahan, saya punya dua dosen pragmatik dan dua-duanya orang yang menyenangkan. Ilmu pragmatik mereka amalkan sepenuh hati.

Setelah dua kali penolakan, saya pun teringat proses pembuatan skripsi dulu yang sama sekali tanpa hambatan. Seharusnya dulu itu saya adakan syukuran besar-besaran. Dahulu, bab 1 belum dibaca sudah diminta bab 2, begitu seterusnya dan tanpa penolakan. Kalaupun kuliah S1 dulu itu lama,  satu-satunya penyebab ialah kuliah pagi! Penolakan itu rasanya kayak jamu pahit salah penelitian, tidak berkhasiat.

(bersambung…

Categories: Nyampah Tags: ,