Home > Nyampah > Iyakah?

Iyakah?

Yang terjadi di Sampang, konon penyerangan terhadap terhadap syiah. Tentu saja tersangkanya sunni. Intinya mereka berbeda pemahaman. Saya bukan penulis yang baik, yang langsung cari data jika sunni syiah adalah bla bla, mereka bertempur sejak tahun bla bla, atau berdasarkan pendapat ahli si Mr siapa gitu asal kebarat-baratan namanya langsung saja di-quote. Saya sunni, berislam dengan cara Muhammadiyah, shalat tarweh 11 rakaat, tidak tahlilan, tidak 7 harian sampe 100 hari, tidak yasinan, takbiran 2 kali takbirnya. Sepanjang yang saya ketahui, syiah itu mengelukan Ali bin Abi Thalib, tidak mengenal jum’atan, sekarang berkembang di Iran, merayakan Ashura, tapi detilnya saya tidak paham. Jadi, intinya mereka berbeda paham. Sebagai sunni, saya tidak suka apabila ada orang menawarkan syiah ke keluarga saya, saya kira mereka pun juga begitu.

Selanjutnya mengenai kekerasan, apa tidak berlebihan sampai diserang pakai parang dan clurit. Beberapa orang saya nilai tergesa-gesa mengecam penyerangan. Apa iya mereka betul-betul benci kekerasan. Apa iya seandainya keluarganya diganggu mereka tidak angkat parang, lebih dalam lagi, bagaimana seandainya keluarganya itu ibuk. Saya tidak yakin yang mengecam kekerasan akan diam saja. Jadi, apakah sah kekerasan? Saya jawab, sah seandainya keluarga saya diganggu, maka si pengganggu akan saya kerasi. Bagaimana jika keluarga saya yang dikerasi? Ya, saya lawan yang keras terhadap keluarga saya.  Urusan benci itu urusan hati, otak tidak punya kuasa. Kalau dialog tidak bisa ya fisik, yang kalah ya kalah, yang menang ya menang.Toh dimana-mana slogan kalah menang itu biasa, nyaring terdengar.

Tapi saya tidak setuju jika penyerangan dilakukan karena yang diserang itu sedikit atau minoritas. Begitu pula jika alasannya ialah yang diserang itu salah. Berani-beraninya berlagak jadi Tuhan dalam urusan ibadah. Saya tidak setuju, tapi saya tidak berani menyalahkan penyerangan. Karena kalau saya kecam dan menyalahkan, akan berbalik pada diri saya yang  berlagak jadi Tuhan.

Seharusnya yang saya tulis itu mengenai pragmatik, dan hubungannya pada bidang penerjemahan. Bagaimana tuturan direktif dalam bahasa Inggris diterjemahkan pada bahasa Indonesia. Masih galau tesis! Dan nanti malam mau car free night, malam bebas kendaraan jadi ndak mungkin macet. Jokowi lagi!

Categories: Nyampah Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s