Archive

Archive for January, 2012

Anjing dan Tahlilan

Sebelum berita di TV, mengenai demo yang melarang sebuah majelis untuk mengadakan pengajian akbar sekaligus pembukaan cabang barunya di Kudus, saya sudah mendengar kabar dari teman saya yang ikut langsung di acara tersebut. Namun, pemberitaan di TV agak lebay, katanya dibubarkan, padahal yang betul acara sudah selesai dan memang bubar dengan sendirinya. Berita TV tidak menyebutkan ormas yang dimaksud. Mereka ialah PMII dan Banser NU. PMII itu organisasi apa saya juga ndak tahu, malas googling juga, kalau Banser NU jelas sayapnya NU. Konon, beberapa orang NU terkenal karena pluralisnya, seperti Gus Dur dan Ulil.

Majelis yang katanya pengajiannya dibubarkan itu namanya MTA, Majelis Tafsir Al Quran yang berpusat di Solo. Saya suka pengajiannya, ustadznya pintar-pintar. Setiap minggu di Mangkunegaran pengajiannya selalu penuh, ribuan orang hadir. Tidak gampang mengumpulkan massa berjumlah ribuan untuk pengajian. Untuk dangdut koplo mungkin mudah. Walaupun saya suka pengajian MTA, tapi ada beberapa hal dalam berislam saya kurang cocok, seperti sholat tarweh 11 rakaat dengan formasi 2-2-2-2-3, saya lebih suka 4-4-3. Mengenai penentuan hari lebaran juga sering kurang cocok, karena MTA ini selalu mengikuti pemerintah dan biasanya berbeda dengan Muhammadiyah. Ya, saya kader Muhammadiyah, tapi saya juga selalu mengikuti pengajian MTA.

Kenapa MTA didemo dan dilarang pengajiannya di Kudus? Menurut siaran berita di Trans berdasarkan wawancara langsung di tempat, ialah mengenai anjing yang katanya dihalalkan oleh MTA dan mengenai tahlilan yang enggan dilakukan oleh MTA.

Pertama mengenai anjing, kebetulan saya pernah ikut langsung pengajian MTA ketika membahas anjing. Memang mereka sedikit berbeda pendapat dengan beberapa pemahaman yang lain. Dari kecil kita sudah dicekoki dengan betapa haramnya anjing itu. Begitu kena liurnya harus dicuci 7 kali dan salah satunya dengan tanah. Ada cerita menarik ketika kos di jogja, teman saya muslim memelihara anjing di kos. Setiap selesai memegang anjingnya teman saya itu malah membersihkannya 7 kali dengan tanah semua. Padahal pelajaran waktu kecil dalam membersihkan liur anjing, yang menggunakan tanah itu hanya sekali dan bebas mau diletakkan yang pertama ataupun terakhir. Lucu aja, hehehe. Nah, bagaimana pandangan MTA tentang anjing ini? Liur anjing yang terkena badan tidak haram dan tidak harus dicuci 7 kali, kecuali jika liur tersebut mengenai tempat (bejana, kata dalah hadits) air. Apabila bejana air terjilat maka bejananya wajib dicuci 7 kali. Sang ustadz berpendapat tidak menemukan hadits lain selain bejana ini saja. Bahkan ada hadits shahih mengenai halalnya hewan buruan yang ditangkap dengan anjing. Maksudnya ketika berburu, sebelum melepas anjing membaca bismillah maka halal daging buruan tersebut. Tentu saja hewan buruan itu tergigit anjing dan liurnya pasti kena. Namun, dalam hadits tersebut tidak diperintahkan untuk mencuci 7 kali alias boleh langsung dimasak dan dinikmati. Nah, berpegang pada hadits ketika berburu inilah maka sang ustadz tidak mengharamkan liur anjing, bahkan dicontohkan misalnya ketika akan ke masjid dan ditengah jalan terkena liur anjing maka cukup dibersihkan liurnya tanpa harus mengulang wudhu. Liur anjing tidak membatalkan wudhu. Akan tetapi ini masuk akal juga, seandainya ada hadits ini maka jaman Nabi dulu juga memelihara anjing. Seandainya memelihara tentu serawungan juga, tetapi tidak pernah disebutkan apakah Nabi memelihara anjing. Maksud saya sejak jaman dulu anjing sudah menjadi hewan peliharaan dan Nabi tahu itu, sehingga ada hadits tentang berburu menggunakan anjing. Menurut saya masuk akal, tapi kalau yang lain tidak cocok ya tidak masalah. Saya jadi bisa melihara anjing, xixixixi. Jadi mungkin yang dimaksud pendemo tersebut ialah perbedaan pandangan mengenai anjing ini.

Mengenai tahlilan, sebetulnya bukan MTA saja, Muhammadiyah juga tidak tahlilan. Tahlil itu kalimat yang harus selalu diucapkan sebagai pengingat pada Allah SWT. Bahkan jika di akhir hayat mampu mengucapkannya dijamin surga. Akan tetapi, tahlilan sebagaimana yang dilakukan memang tidak ada tuntunannya. Prof Quraish Shihab juga mengatakan memang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan tradisi budaya NU. Said Agil di TVOne pun pernah mengatakan hal yang sama. Jadi telah ditegaskan, tahlilan ialah tradisi budaya yang baik, jadi bukan merupakan suatu ibadah. Ibadah yang diada-adakan itu bid’ah. Urusan ibadah cari tuntunannya, urusan dunia cari larangannya. Maksudnya segala hal ibadah ikuti Nabi dan harus ada tuntunananya. Jika ibadah tidak ada tuntunannya maka termasuk bid’ah. Bid’ah itu finnar kata al ustadz. Contoh, sholat magrib jika dikerjakan 4 rakaat maka termasuk bid’ah. Karena tuntunannya magrib ialah 3 rakaat dan sholat magrib ialah ibadah. Mengenai urusan dunia cari larangannya. Misalnya pakai ponsel, ini bukan bid’ah karena bukan termasuk ibadah. Ini termasuk dalam urusan dunia yang tak ada larangannya maka halal. Hal ini berlaku untuk hal-hal duniawi lainnya. Jadi bid’ah atau bukan itu apakah termasuk ibadah atau bukan. Jadi, menurut saya pribadi, tahlil jika memang tradisi kultural maka bukanlah bid’ah.

Jangan menyalahkan pendemo, mereka sedang ber’ibadah’. Mereka sedang menjaga keluarganya dari paham lain yang tidak cocok. Hal yang sama mungkin saya lakukan jika mereka mengajak-ajak keluarga saya untuk tahlilan. Kalau hanya tahlilan di deket rumah saya tanpa mengajak-ajak keluarga saya, sama sekali bukan masalah dan silakan saja. Dan setahu saya MTA itu kalem, tidak suka mengajak atau memaksa ikut paham mereka. Bagimu amalanmu bagiku amalanku.

Oya, soto kudus sudah tidak enak lagi di lidah saya!

Advertisements

Dendam

“revenge is a dish best served cold”

Seperti penerjemahan, kisah ini tidak dilebih-lebihkan tidak dikurang-kurangi.

Saya memiliki orang panutan, sebut saja A. Pakai inisial karena beberapa orang yang terlibat masih berkeliaran dan segar bugar. Si A ini sangat saya segani. Orangnya pintar dan taat beragama. Bahkan, seandainya mengeluarkan fatwa ketika ada perbedaan dalam beragama, langsung saya ikuti tanpa bantahan, sami’na wa atho’na.

Kisah ini berawal 30-an tahun yang lalu, bisa 33 bisa 31 tahun yang lalu, saya lupa pasnya. Si A, ketika itu, ialah guru yang sangat rajin dan disiplin. Menonjol dari kawan seprofesi lainnya. Kerajinan dan kedisiplinannya terdengar sampai petinggi kantor, sehingga ia pun hendak diangkat menjadi kepala sekolah. Tapi apa yang terjadi? Ya, semua temannya menolak dengan alasan belum cukup umur. Maksudnya, diantara kawannya itu ada yang lebih tua umurnya sehingga merasa lebih pantas. Sungguh menyakitkan! Dikhianati teman seperjuangan. Salah satu pentolan yang menolak sekarang menjadi dosen, konon kata teman saya yang menjadi mahasiswanya mengatakan cara mengajarnya sangat membosankan dan membuat mengantuk. Sering tidak dihiraukan para muridnya. Kembali ke A,  A pun batal menjadi kepala sekolah.

Singkat cerita 10 tahun kemudian, karena kesabarannya, si A memegang jabatan penting. Kewenangannya mampu mengangkat dan memberhentikan kepala sekolah sekota. Sementara kawan-kawan yang lain, yang dulu menolaknya masih bekerja sebagai guru. Hidup ini adil! Gusti Allah tidak goblok.

Seandainya saya menjadi si A, sudah saya basmi semua orang yang dulu menolak. Saya buang ke luar kota. Kenaikan pangkatnya saya persulit. Atau apapun yang membuat mereka menderita akan saya lakukan. Pasti saya lakukan.

Tapi si A memilih lain. Kawan-kawannya yang dulu menolaknya malah diangkat menjadi kepala sekolah. Dan si A sendiri yang melantiknya. Aneh memang tapi ini nyata. Sekali lagi ini seperti penerjemahan, tidak boleh dilebih-lebihkan. Kalau A terjemahkan jadi A, jangan yang lain.

Saya memahami pilihan si A setelah membaca novel The Godfather. Bagaimana musuh itu diajak makan semeja. Sekarang saya bisa membayangkan bagaimana tidak enaknya ketika mereka menjabat sebagai kepala sekolah. Betapa tidak enaknya dilantik orang yang dulu mereka tolak. Mereka berpendidikan jadi pasti timbul rasa bersalah.

Sebagai anak si A, saya menangguk anggukan dan tundukan rasa bersalah yang menjadi rasa segan.

Dendam milik pribadi”

Categories: Nyampah Tags: , ,

Teknik Penerjemahan

Teknik penerjemahan ialah cara yang digunakan untuk mengalihkan pesan dari BSu ke BSa, diterapkan pada tataran kata, frasa, klausa maupun kalimat. Menurut Molina dan Albir (2002), teknik penerjemahan memiliki lima karakteristik:

1. Teknik penerjemahan mempengaruhi hasil terjemahan.

2. Teknik diklasifikasikan dengan perbandingan pada teks BSu.

3. Teknik berada tataran mikro.

4. Teknik tidak saling berkaitan tetapi berdasarkan konteks tertentu.

5. Teknik bersifat fungsional.

Setiap pakar memiliki istilah tersendiri dalam menentukan suatu teknik penerjemahan, sehingga cenderung tumpang tindih antara teknik dari seorang pakar satu dengan yang lainnya. Teknik yang dimaksud sama namun memiliki istilah yang berbeda. Dalam hal keberagaman tentunya hal ini bersifat positif, namun di sisi lain terkait penelitian akan menimbulkan kesulitan dalam menentukan istilah suatu teknik tertentu. Oleh karena itu, dalam hal ini penulis menggunakan 18 teknik penerjemahan yang dikemukakan oleh Molina dan Albir. Selain untuk keseragaman, teknik yang dikemukakan Molina dan Albir telah melalui penelitian kompleks dengan mengacu dan membandingkan dengan teknik-teknik penerjemahan yang telah ada dari pakar penerjemahan sebelumnya.

Berikut 18 teknik penerjemahan tersebut,

1) Adaptasi (adaptation),

Teknik ini dikenal dengan teknik adaptasi budaya. Teknik ini dilakukan dengan mengganti unsur-unsur budaya yang ada BSu dengan unsur budaya yang mirip dan ada pada BSa. Hal tersebut bisa dilakukan karena unsur budaya dalam BSu tidak ditemukan dalam BSa, ataupun unsur budaya pada BSa tersebut lebih akrab bagi pembaca sasaran. Teknik ini sama dengan teknik padanan budaya.

Contoh:

BSu

BSa

as white as snow

seputih kapas

2) Amplifikasi (amplification),

Teknik penerjemahan dengan mengeksplisitkan atau memparafrase suatu informasi yang implisit dalam BSu. Teknik ini sama dengan eksplisitasi, penambahan, parafrasa eksklifatif. Catatan kaki merupakan bagian dari amplifikasi. Teknik reduksi adalah kebalikan dari teknik ini.

Contoh:

BSu

BSa

Ramadhan

Bulan puasa kaum muslim

3) Peminjaman (borrowing),

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan meminjam kata atau ungkapan dari BSu. Peminjaman itu bisa bersifat murni (pure borrowing) tanpa penyesuaian atau peminjaman yang sudah dinaturalisasi (naturalized borrowing) dengan penyesuaian pada ejaan ataupun pelafalan. Kamus resmi pada BSa menjadi tolok ukur apakah kata atau ungkapan tersebut merupakan suatu pinjaman atau bukan.

Contoh:

BSu

BSa

peminjaman

Mixer

Mixer

murni

Mixer

Mikser

alamiah

4) Kalke (calque),

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa atau kata BSu secara literal. Teknik ini serupa dengan teknik penerimaan (acceptation).

Contoh:

BSu

BSa

Directorate General

Direktorat Jendral

5) Kompensasi (compensation),

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan menyampaikan pesan pada bagian lain dari teks terjemahan. Hal ini dilakukan karena pengaruh stilistik (gaya) pada BSu tidak bisa di terapkan pada BSa. Teknik ini sama dengan teknik konsepsi.

Contoh:

BSu

BSa

A pair of scissors

Sebuah gunting

6) Deskripsi (description),

Teknik penerjemahan yang dilterapkan dengan menggantikan sebuah istilah atau ungkapan dengan deskripsi bentuk dan fungsinya.

Contoh:

BSu

BSa

panettone

kue tradisional Italia yang dimakan pada saat Tahun Baru

7) Kreasi diskursif (discursive creation),

Teknik penerjemahan dengan penggunaan padanan yang keluar konteks. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian calon pembaca. Teknik ini serupa dengan teknik proposal.

Contoh:

BSu

BSa

The Godfather

Sang Godfather

8) Padanan lazim (establish equivalence),

Teknik dengan penggunaan istilah atau ungkapan yang sudah lazim (berdasarkan kamus atau penggunaan sehari-hari). Teknik ini mirip dengan penerjemahan harfiah.

Contoh:

BSu

BSa

Ambiguity

ambigu

9) Generalisasi (generalization),

Teknik ini menggunakan istilah yang lebih umum pada BSa untuk BSu yang lebih spesifik. Hal tersebut dilakukan karena BSa tidak memiliki padanan yang spesifik. Teknik ini serupa dengan teknik penerimaan (acceptation).

Contoh:

BSu

BSa

Penthouse, mansion

Tempat tinggal

10) Amplifikasi linguistik (linguistic amplification),

Teknik penerjemahan yang dilakukan dengan menambahkan unsur-unsur linguistik dalam BSa. Teknik ini lazim diterapkan pada pengalihbahasaan konsekutif dan sulih suara.

Contoh:

BSu

BSa

No way

De ninguna de las maneras (Spain)

11) Kompresi linguistik (linguistic compression),

Teknik yang dilakukan dengan mensintesa unsur-unsur linguistik pada BSa. Teknik ini merupakan kebalikan dari teknik amplifikasi linguistik. Teknik ini lazim digunakan pada pengalihbahasaan simultan dan penerjemahan teks film.

Contoh:

BSu

BSa

Yes so what?

Y? (Spain)

12) Penerjemahan harfiah (literal translation),

Teknik yang dilakukan dengan cara menerjemahkan kata demi kata dan penerjemah tidak mengaitkan dengan konteks.

Contoh:

BSu

BSa

Killing two birds with one stone

Membunuh dua burung dengan satu batu

13) Modulasi (modulation),

Teknik penerjemahan yang diterapkan dengan mengubah sudut pandang, fokus atau kategori kognitif dalam kaitannya dengan BSu. Perubahan sudut pandang tersebut dapat bersifat leksikal atau struktural.

Contoh:

BSu

BSa

Nobody doesn’t like it

Semua orang menyukainya

14) Partikularisasi (particularizaton),

Teknik penerjemahan dimana penerjemah menggunakan istilah yang lebih konkrit, presisi atau spesifik, dari superordinat ke subordinat. Teknik ini merupakan kebalikan dari teknik generalisasi.

Contoh:

BSu

BSa

air transportation

pesawat

15) Reduksi (reduction),

Teknik yang diterapkan dengan penghilangan secara parsial, karena penghilangan tersebut dianggap tidak menimbulkan distorsi makna. Dengan kata lain, mengimplisitkan informasi yang eksplisit. Teknik ini kebalikan dari teknik amplifikasi.

Contoh:

BSu

BSa

SBY the president of republic of Indonesia

SBY

16) subsitusi (subsitution),

Teknik ini dilakukan dengan mengubah unsur-unsur linguistik dan paralinguistik (intonasi atau isyara). Contoh: Bahasa isyarat dalam bahasa Arab, yaitu dengan menaruh tangan di dada diterjemahkan menjadi Terima kasih.

17) transposisi (transposition),

Teknik penerjemahan dimana penerjemah melakukan perubahan kategori gramatikal. Teknik ini sama dengan teknik pergeseran kategori, struktur dan unit. Seperti kata menjadi frasa.

Contoh:

BSu

BSa

adept

Sangat terampil

18) variasi (variation).

Teknik dengan mengganti elemen linguistik atau paralinguistik (intonasi, isyarat) yang berdampak pada variasi linguistik.

Sumber:

Hurtado Albir, A. & Molina L. Translation Technique Revisited: A Dynamic and Functional Approach. META, vol. 47, 4. Spain: Universitat Autonoma Barcelona. 2002.

Jangan berhenti merokok

Berhenti merokok, tindakan ini saya lakukan berdasarkan banyak artikel di internet, betapa lemahnya sperma seorang perokok. Saran ini juga diberikan oleh kakak saya yang sudah pengalaman menghasilkan tiga anak. Sebelumnya, hanya Gusti Allah yang mampu meredakan jumlah rokok yang saya hisap, yaitu puasa wajib. Selain puasa tidak ada yang mampu menghentikan saya merokok. Sakit pun saya masih mampu merokok. Sekotak rokok isi 16 dengan mudah dapat saya habiskan dalam waktu sehari, bahkan jika kondisi fit setengah hari juga mampu. Sulit sekali berhenti merokok, sempat dulu berhenti merokok sebentar itupun setelah rawat inap di panti rapih. Demi program kehamilan saya lakukan, meskipun efek samping dari berhenti merokok juga banyak.

Berhenti merokok jangan dikira tanpa efek, banyak efeknya. Seringkali di berbagai artikel menyebutkan seorang narasumber mengungkapkan bagaimana enaknya berhenti merokok, bisa jadi saya belum sampai pada tahap itu. Badan menjadi ringkih, efek awal yang saya rasakan ketika tidak merokok. Begitu kehujanan langsung masuk angin dan badan greges. Walaupun tanpa penelitian ilmiah, saya yakin ini gejala awal berhenti merokok. Pusing mendadak tanpa sebab juga sering terjadi. Badan menjadi lemas dan gampang pegal.

Kesulitan mengerjakan tugas kuliah dan tesis tanpa rokok, ini terasa sekali efeknya. Buktinya, tesis saya belum jadi-jadi. Bukan karena saya malas atau pun bodoh. Ini pasti gara-gara saya tidak merokok, hehehe! Begitu pun tugas kuliah, menjadi lebih sederhana dan ringkas, sulit bertele-tele. Saya pun sampai harus membiasakan mengetik tanpa rokok. Termasuk blog ini, yang saya tunggangi untuk membiasakan diri mengetik tanpa merokok. Kategorinya pun ‘nyampah’.

Saya suka membaca buku sambil merokok, lebih cepat selesainya. Gara-gara tidak merokok, novel the witch of portobello yang saya beli sebulan yang lalu belum selesai saya baca. Tanpa rokok, daya konsentrasi saya berkurang drastis. Percayalah.

Berhenti merokok membuat saya jadi jelek. Lidah menjadi masam sehingga keinginan makan kuat sekali. Berat badan saya naik sekitar 10 kg dalam waktu singkat karena tidak mampu mengendalikan nafsu makan. Ini pasti gara-gara rokok, bukan karena hidup saya menjadi lebih teratur setelah menikah. Metabolisme tubuh saya kacau tanpa rokok. Kalau tidak percaya berhenti saja merokok.

Saya pengen punya anak, makanya berhenti merokok, biar sperma saya sehat. Jangan-jangan jika dihadiahi anak oleh Gusti Allah saya lanjut lagi. Semoga tidak! Lebih baik lagi, tidak perlu alasan buat berhenti merokok. Kalau ditanya “Kenapa kamu berhenti merokok?” Jawab saja, “Pokoknya berhenti saja titik!”