Home > Nyampah > Dendam

Dendam

“revenge is a dish best served cold”

Seperti penerjemahan, kisah ini tidak dilebih-lebihkan tidak dikurang-kurangi.

Saya memiliki orang panutan, sebut saja A. Pakai inisial karena beberapa orang yang terlibat masih berkeliaran dan segar bugar. Si A ini sangat saya segani. Orangnya pintar dan taat beragama. Bahkan, seandainya mengeluarkan fatwa ketika ada perbedaan dalam beragama, langsung saya ikuti tanpa bantahan, sami’na wa atho’na.

Kisah ini berawal 30-an tahun yang lalu, bisa 33 bisa 31 tahun yang lalu, saya lupa pasnya. Si A, ketika itu, ialah guru yang sangat rajin dan disiplin. Menonjol dari kawan seprofesi lainnya. Kerajinan dan kedisiplinannya terdengar sampai petinggi kantor, sehingga ia pun hendak diangkat menjadi kepala sekolah. Tapi apa yang terjadi? Ya, semua temannya menolak dengan alasan belum cukup umur. Maksudnya, diantara kawannya itu ada yang lebih tua umurnya sehingga merasa lebih pantas. Sungguh menyakitkan! Dikhianati teman seperjuangan. Salah satu pentolan yang menolak sekarang menjadi dosen, konon kata teman saya yang menjadi mahasiswanya mengatakan cara mengajarnya sangat membosankan dan membuat mengantuk. Sering tidak dihiraukan para muridnya. Kembali ke A,  A pun batal menjadi kepala sekolah.

Singkat cerita 10 tahun kemudian, karena kesabarannya, si A memegang jabatan penting. Kewenangannya mampu mengangkat dan memberhentikan kepala sekolah sekota. Sementara kawan-kawan yang lain, yang dulu menolaknya masih bekerja sebagai guru. Hidup ini adil! Gusti Allah tidak goblok.

Seandainya saya menjadi si A, sudah saya basmi semua orang yang dulu menolak. Saya buang ke luar kota. Kenaikan pangkatnya saya persulit. Atau apapun yang membuat mereka menderita akan saya lakukan. Pasti saya lakukan.

Tapi si A memilih lain. Kawan-kawannya yang dulu menolaknya malah diangkat menjadi kepala sekolah. Dan si A sendiri yang melantiknya. Aneh memang tapi ini nyata. Sekali lagi ini seperti penerjemahan, tidak boleh dilebih-lebihkan. Kalau A terjemahkan jadi A, jangan yang lain.

Saya memahami pilihan si A setelah membaca novel The Godfather. Bagaimana musuh itu diajak makan semeja. Sekarang saya bisa membayangkan bagaimana tidak enaknya ketika mereka menjabat sebagai kepala sekolah. Betapa tidak enaknya dilantik orang yang dulu mereka tolak. Mereka berpendidikan jadi pasti timbul rasa bersalah.

Sebagai anak si A, saya menangguk anggukan dan tundukan rasa bersalah yang menjadi rasa segan.

Dendam milik pribadi”

Categories: Nyampah Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s