Home > Penerjemahan > Ideologi Penerjemahan

Ideologi Penerjemahan

Secara umum, ideologi adalah suatu prinsip yang dipercayai kebenarannya oleh sebuah komunitas dalam suatu masyarakat. Sementara itu dalam bidang penerjemahan, ideologi berarti prinsip atau keyakinan mengenai benar-salah dalam penerjemahan (Hoed, 2004). Jika teknik penerjemahan berada pada tataran mikro, metode penerjemahan berada pada tataran makro, maka ideologi penerjemahan berada pada tataran super makro. Maksudnya, ideologi penerjemahan tidak bisa dilihat dari contoh per contoh kasus, tetapi pada tataran yang lebih luas lagi yaitu prinsip si penerjemah dalam menerjemahkan. Namun, meskipun terletak pada tataran yang sangat luas, ideologi masih dapat diidentifikasi, dapat dievaluasi pada penerapan teknik yang digunakan, kemudian dianalisis metodenya, lalu bagian ideologinya.

Seorang penerjemah dituntut untuk dapat mengalihkan makna dari BSa ke BSu, tidak hanya satuan linguistiknya saja yang dialihkan, akan tetapi konsep budaya yang menaungi sebuah bahasa pun perlu dialihkan pula. Kegiatan penerjemahan adalah kegiatan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang penerjemah. Penerjemah memiliki kuasa penuh memutuskan akan diterjemahkan seperti apa teks BSa ke dalam BSu. Keputusan yang diambil tentulah harus tetap mengutamakan kesepadanan makna, mengikuti kaidah-kaidah kebahasaan yang ada pada kedua bahasa tersebut—Bsa dan BSu, dan memperkirakan siapakah pembacanya (target reader). Resiko dari setiap keputusan itu selalu ada. Ada penerjemah yang memilih mempertahankan konsep-konsep atau istilah yang ada pada BSu, mereka ini disebut berideologi foreignisasi. Sebaliknya penerjemah yang fokus mempertahankan konsep-konsep yang ada pada BSa disebut berideologi domestikasi. Sulit bagi penerjemah untuk melakukan foreignisasi saja atau domestikasi saja secara mutlak. Yang ada ialah kecenderungan foreinisasi atau kecenderungan domestikasi. Terlalu foreignisasi juga tidak baik, terjemahan yang dihasilkan akan menjadi sangat kaku dan kurang enak dibaca. Begitu pula terlalu domestikasi, hasil terjemahannya bisa sangat enak dibaca tetapi keakuratannya rendah, contohnya saduran, dimana unsur budaya pada BSu dihilangkan. Dalam penerjemahan selalu ada foreignisasi dan domestikasi, dan porsi penggunaannya menjadi pilihan penerjemah dengan berbagai pertimbangan.

Forenisasi

adalah ideologi penerjemahan yang berorientasi pada BSu, yakni bahwa penerjemahan yang akurat, berterima, dan mudah dipahami adalah yang menginginkan kehadiran kebudayaan BSu pada hasil terjemahan. Ideologi ini menganggap kehadiran kebudayaan asing bermanfaat bagi pembaca sasaran. Ciri yang mencolok pada ideologi ini adalah adanya aspek kebudayaan asing yang diungkapkan dalam BSa.

Penerjemah berideologi ini, dalam hal metode akan menerapkan, (1) penerjemahan Kata demi kata (Word-for-word Translation); (2) Penerjemahan Harfiah (literal Translation); (3) Penerjemahan Setia (Faithful Translation); (4) Penerjemahan Semantik (Semantic Translation). Ideologi ini akan tampak dari penggunaan empat teknik penerjemahan, (1) teknik harfiah; (2) teknik peminjaman murni; (3) teknik peminjaman alamiah; (4) teknik kalke.

Contoh penerapan ideologi ini, kata-kata Mr, Mrs, Mom, Dad tidak diterjemahkan, karena dianggap pembaca Indonesia sudah tidak asing lagi dengan sapaan tersebut.

Domestikasi

adalah ideologi penerjemahan yang berorientasi pada BSa, yakni bahwa penerjemahan yang akurat, berterima, dan mudah dipahami adalah yang menginginkan kehadiran kebudayaan BSa pada hasil terjemahan. Penganut ideology ini menginginkan hasil terjemahan sesuai dengan tradisi tulisan dan budaya dalam BSa. Oleh karena itu, penerjemah menentukan apa yang diperlukan agar terjemahannya tidak dirasakan sebagai karya asing bagi pembacanya. Metode yang dipilih pun adalah metode yang berorientasi pada BSa seperti adaptasi, penerjemahan bebas, penerjemahan idiomatik, dan penerjemahan komunikatif. Sementara itu, teknik yang digunakan ialah selain dari empat teknik yang dianut ideologi foreinisasi.

Bagi penganut ideologi domestikasi, kata-kata asing seperti Mr, Mrs, Mom, Dad dan sebagainya harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menjadi Tuan, Nyonya, Ibu dan Ayah. Hal ini dilakukan agar keseluruhan terjemahan hadir sebagai bagian dari bahasa Indonesia sehingga berterima di kalangan pembaca BSa. Bagi penganut ideologi ini, istilah asing pada BSa harus dihindari dan diganti istilah pada BSu.

Sumber : ada aja!

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s