Archive

Archive for July, 2012

Nilai

Sekolah formal itu penting bagi saya, yang tidak bisa menemukan ruang pendidikan selain di kelas. Biar pintar? Tidak juga. Sekolah justru mengurangi keluasan ilmu, mungkin memperdalam.

Dari TK sampai SMP banyak pelajaran yang di dapat. Ketika SMP pelajaran matematika, bahasa, IPA dan IPS, kesenian tari, muatan lokal dll dipelajari semua. IPA masih dibagi dua biologi dan fisika. IPS malah dibagi tiga sejarah, ekonomi, dan geografi. Ketika SMP masih bisa tanya saya sejarah VOC, mitokondria, gaya pegas, ibukota Yaman dll.

Lanjut SMA, saya banyak belajar tentang Islam, tentu saja menyita pemahaman yang lain. Menjurus ke IPA, dengan 10 jam seminggu pelajaran matematika. Mulai tidak kenal IPS. VOC itu nama apa? Turki di benua Eropa? Inflasi? Karena sekolah, naik kelas dari SMP ke SMA, justru semakin bodoh IPS.

Setelah lulus SMA, saya kuliah di MIPA matematika UNS. Ketika kuliah, jangankan IPS–sejarah, ekonomi, geografi– pelajaran IPA pun mulai tidak tahu, apalagi bahasa, kesenian dll.

Setahun di matematika, pindah ke sastra UGM. Belajar bahasa Inggris. Pelajaran lain? mending jangan tanya, kalau matematika masih boleh.

Lulus kuliah sempet kerja ngajar. Ilmu kuliah malah semakin dalam.

Kemudian, pindah kerja di bank. Kerja di sini tidak pakai ilmu kuliah. Tidak butuh bahasa Inggris untuk melayani nasabah. Seingat saya hanya dua kali ada nasabah orang asing. Dan tidak perlu sampai kuliah segala untuk melayani nasabah tersebut. Ilmu yang didapat ketika kerja justru ilmu menghadapi orang.

Berhenti kerja lanjut kuliah lagi. Kuliah linguistik penerjemahan. Ilmu pun semakin menyempit. Yang lain-lain lupa.

Pendidikan sekolah sebetulnya menyempitkan keluasan pemahaman. Semakin tinggi semakin tidak luas. Pemahaman semakin tidak banyak.

Inti dari sekolah ialah transfer nilai. Nilai apa? Apa saja.

Seperti halnya agama, ibadah, jabatan, gelar, kedudukan; tingkatan tertinggi pendidikan ialah berbuat baik terhadap sesama. Memudahkan urusan orang lain. Peka dalam menghadapi masalah.

Maksudnya, bila telah profesor tapi mempersulit mahasiswa, menunjukkan belum tercapainya tingkatan tertinggi dari pendidikan.

Categories: Nyampah Tags: