Home > Malika > Malika Bilqis Lituhayu

Malika Bilqis Lituhayu

Saya menikah tanggal 2 Oktober 2011, langsung berencana memiliki anak. Sebulan setelah menikah ternyata istri saya belum hamil. Saya mulai cari info dari internet dan tanya ke keluarga. Dari banyak artikel dan saran, ada satu saran yang berkaitan, yaitu hindari rokok. Sebagai perokok berat, tanpa basa basi saya langsung berhenti. Konon rokok dapat melemahkan sperma. Tidak ada rasa berat ketika berhenti. Persis ketika puasa, keinginan merokok hilang sendirinya.

Alhamdulillah istri saya hamil. Namun, kehamilan baru diketahui setelah berusia sekitar 2 bulan. Tes dilakukan pada tanggal 1 januari 2012, lalu langsung cek ke dokter untuk USG. Memang terlambat. Karena sempat saya kira istri saya haid, ternyata flek tanda hamil.

Sejak saat itu hidup saya jadi berdebar-debar. Saya selalu mengantar kontrol setiap bulan. Mulai dari sebulan sekali hingga seminggu sekali. Istri saya rajin minum susu. Anmum 400 gr rasa coklat habis setiap 10 hari. Tidak lupa vitamin dari dokter selalu diminum. Jenis kelamin telah diketahui, perempuan. Hpl tanggal 4 Agustus 2012.

Dar der dor! Saat kelahiran tiba. Pagi-pagi tanggal 1 Agustus sekitar pukul 6, kasur saya basah kuyup. Ternyata air ketuban telah pecah. Duh, menurut info internet resiko kuman masuk besar. Segera saya bawa ke RS PKU. Langsung masuk ruang bersalin. Sudah pembukaan 1 (maksudnya satu cm). Diinfus antibiotik untuk daya tahan tubuh bayi dari kuman karena ketuban telah pecah. Kamar sempat penuh, tapi akhirnya dapat juga kelas 1, menengah pas. Oya, sampai pecah ketuban dan bukaan 1, istri saya tidak mengalami sakit sama sekali.

Setelah disuntik berbagai macam, entah apa namanya. Proses pembukaan berlangsung. Istri saya mulai kesakitan. Awalnya jeda antar sakit cukup untuk saya baca koran. Namun, kemudian hanya sempat untuk membaca judul artikel di koran saja. Setiap kesakitan saya harus menggosokkan minyak ke punggungnya untuk mengurangi nyeri. Empat jam kesakitan pembukaan berjalan pelan, baru bukaan tiga. Walaupun, kata tante-tante saya itu termasuk cepat.

Ketika sedang sakit-sakitnya, ibuk dan bude datang. Bude langsung memberitahu tentang ILA. Suntik pereda nyeri. Melihat istri yang sedang kesakitan, saran itu saya pertimbangkan juga. Saya belum ada info tentang ILA. Hanya saja, syaratnya harus setelah bukaan tiga. Tapi jika sudah bukaan lima sudah tidak boleh suntik ILA. Akhirnya setelah sholat duhur, dengan Bismillah saya tanda tangani surat pernyataan bersedia menggunakan ILA. Tarifnya sekitar dua jutaan. Ada kekuatiran apa iya segitu hebatnya ILA bisa menghilangkan nyeri istri saya. Saya sempat sms kedua kakak saya, yang sudah pengalaman masing-masing tiga kali melahirkan, mengenai ILA. Hasilnya cukup melegakan, ternyata ILA populer, kedua kakak perempuan saya tahu.

Ternyata benar, setelah disuntik istri saya tidak sakit sama sekali. Bahkan bisa lahap makan. Bukaan pun melaju kencang. Setelah tiga, langsung lima, delapan dan sepuluh. Ya, sepuluh berarti siap lahir.

Proses persalinan disiapkan. Satu dokter dan 3 orang, mungkin bidan mungkin perawat, bersiap. Saya menemani. Yang paling horor ialah lihat darah terus keluar sekitar sebaskom.

Lahirlah Malika tanpa operasi.

lahir ceprot, baru dilapi, langsung melirik

(baru dilapi, masih berdarah-darah)

Karena Malika tidak langsung menangis, maka perlu perawatan khusus. Menangisnya setelah sekitar 3 (tiga) detik sejak keluar terus ditaruh di perut miminya. Ada jeda tidak menangis itu ternyata perlu perawatan khusus. Begitu pula karena pecah ketuban terlebih dahulu. Masuk ruang restitusi, langsung ditangani spesialis anak. Kemudian harus pula masuk ruang PICU (atau mungkin PICCU, lupa), untuk observasi. Mengecek kemungkinan ada kelainan pada si bayi. Ruangannya khusus. Hanya orang tua yang boleh menjenguk. Masuk harus pakai baju khusus dan wajib cuci tangan. Pengunjung lain hanya boleh melihat dari luar kaca.

Selama di ruang khusus, saya sempat menandatangani kesedian untuk Malika diberi sufor. Tidak ada pilihan lain, ASI belum keluar. Sudah dipijat, makan marneng, minum ekstrak daun katuk, minum kacang ijo, dll, tetap ASI belum keluar. Meskipun bayi lahir tahan 3 hari tanpa makan minum, tidak tega juga dibiarkan nangis kehausan. Namun tidak lama, hari ke-3 ASI nya keluar dan berlimpah. Alhamdulillah, nenen-nya rutin dan banyak.

Akhirnya Malika boleh sekamar dengan mimi-nya. Tidurnya pun langsung nyenyak.

(wajahnya tenang banget)
  1. 14 August 2012 at 08:34

    Barakallah ya, Mas Singgih… Semoga Malika menjadi anak yang shalehah…

  2. 14 August 2012 at 19:52

    Amin..suwun rid..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s