Home > Lebaran > Mudik lebaran

Mudik lebaran

Usia 27 tahun, tahun 1433 H ini, pertama kalinya tidak lebaran di rumah. Rasanya berat. Biasanya, bareng ke-6 ponakan saya yang masih kecil-kecil, saya sholat id di lapangan. Setiap mudik saya banyak menghabiskan waktu bermain dengan 6 keponakan saya.

Biasanya, makan opor buatan ibuk. Selalu teringat kata-kata Rudi Choiruddin, pakar masak di TV, katanya masakan itu kalau dimasak dengan penuh rasa ikhlas dan cinta akan terasa enak bagi yang makan. Pantas saja tidak ada yang mengalahkan opor buatan ibuk!

Biasanya bertemu kawan dari kecil sekitar rumah. Sekedar cerita-cerita atau main bilyar.

Tidak mudik karena ada Malika, putri kecil yang belum kuat naik pesawat.

Yang paling bikin berkaca-kaca ialah sms bapak ibuk. Bapak bilang pulang saja sendirian kalau Malika belum bisa naik pesawat. Pilihan ini sulit. Masa‘ anak selucu itu ditinggal, hehehe.

Sms ibuk yang paling mengena, “Pulang saja dg anak istrimu mumpung istrimu cuti gimana ibu carikan tiket bertiga ya, puasa/hari raya gak ada kamu gak enak juga. makan ramai2.

Untung ada Malika. Kemarin rewel terus, setelah puput. Nah, tadi ikut ke lapangan sholat id kok ndak rewel blas. Anak pinter. Tapi, ketika siang tetap njerit-njerit hohoho.

Lebaran paling wah ialah anak istri bisa di bawa kumpul ke Samarinda. Saya kangen ponakan-ponakan.

Categories: Lebaran
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s