Archive

Archive for April, 2015

Membeli Kucing dalam Karung–sebuah cerita tradisonal

Membeli Kucing dalam karung adalah kiasan dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna awal yang berkaitan dengan jual beli atau berdagang. Maksudnya pembeli harus meneliti secara detil barang yang hendak dibeli. Jangan sampai apa yang dibeli tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kiasan ini terus meluas tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga sampai pada pemilihan apapun, misal memilih pasangan hidup, pemimpin, wakil rakyat, dll.

Istilah yang digunakan adalah “membeli”. Ada apa dengan “membeli”? Mungkinkah karena mayoritas masyarakat Indonesia itu muslim. Dalam Islam, sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada di ¬†jual beli atau perdagangan. Atau ada kemungkinan yang lain seperti betapa konsumtifnya kita, sehingga alam bawah sadar kita menggunakan kiasan beli bukan produksi atau membuat.

Dari ribuan jenis binatang di Indonesia mengapa kucing yang dipilih. Kenapa bukan membeli anjing atau anoa atau yang lainnya. Kenapa pula pembungkusnya harus karung? Kurungan hewan dari bambu juga ada. Yang jelas sejak dahulu kala sampai sekarang di Indonesia kucing diperdagangkan. Karung ini sesuatu yang tertutup, jadi tidak tampak dari luar apabila kucing dimasukkan di dalamnya. Lebih lanjut, kemungkinan perdagangan kucing ini adalah sesuatu yang tabu yakni untuk dikonsumsi dagingnya bukan sekadar hewan peliharaan, yaitu sesuatu yang tidak lazim jika dilihat dari nilai-nilai sosial budaya yang dianut masyarakat tertentu. Di Indonesia secara umum, kucing bukanlah hewan untuk dikonsumsi, tetapi di daerah tertentu, seperti Manado, sebagian masyarakatnya mengonsumsi daging kucing. Jadi, bisa dilihat bahawa kucing dahulu kala diperdagangkan untuk di konsumsi, karena hal tersebut tabu, maka proses jual belinya pun sembunyi-sembunyi dengan menggunakan karung.

Cerita tradisonal merupakan sebuah “projecting expectations through narrative”. Si pendongeng cerita bisa saja sedang mengingatkan pada para pelaku jual beli untuk menggunakan karung agar tidak tercakar.

Saya yakin setiap hal itu ada ceritanya.

Categories: Uncategorized