Home > Nyampah > Dikiranya kilau, padahal lumrah

Dikiranya kilau, padahal lumrah

Dikiranya syahdu, ia lempar undangan, diundangnya pejabat.

Menurutnya indah, ia bangun panggung penuh uang emisan.

Dikacanya apik, ia panggil temannya yang pemusik.

Dikupingnya merdu, disuruhnya para pemusik itu mengiringi racauannya.

Menurutnya mampu menggetarkan hati, ia lecehkan penonton.

DIpikirnya ini wah, ia undang pembaca puisi pemula.

Dikiranya ia bersinar, ia undang lagi pembaca puisi manula.

Dikiranya puisi, padahal biasa saja.

Categories: Nyampah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s