Archive

Archive for the ‘Nyampah’ Category

Yakin!

Sebagian orang memiliki keyakinan dengan melakukan bom bunuh diri, mereka akan masuk surga. Sebagian yang lain meyakini hal yang berlawanan, bom bunuh diri itu ujungnya neraka. Urusan keyakinan memang sulit disatukan. Sebagaimana kelas yang lain, mereka bisa saling mengutuk, memandang aneh dan macam2. Terpisah oleh kata ‘kami’ dan ‘mereka’. Kita juga bisa begitu, membentuk kelompok2 kecil, pertemanan khusus, persaudaraan sesuku, buat grup WA dll. Membangun tembok ‘kita’ dan ‘mereka’. Membuat kelas2 sendiri. Repotnya kalau tidak ada keadilan sosial. Bisa perang!

Advertisements
Categories: Nyampah Tags: ,

bicara, nulis, baca

Find three hobbies:one to keep you money, one to keep you in shape, and one to keep you creative

Tulisan itu saya dapat di akun Ig: @dagelan. Terjemahnnya adalah temukan tiga hobi: satu yang menghasilkan uang, satu yang membentuk (karakter), satu lagi yang membuatmu bisa terus kreatif.

Maksud tulisan itu yang saya tangkap, beruntung kalau orang punya satu hobi saja tapi bisa menghasilkan ketiganya: bisa bikin kaya, baik dalam pembentukan karakter, dan kreativitas tetap terjaga.

Yang kurang beruntung, seperti saya, untuk menghasilkan tiga hal itu hobi tidak sama. Tapi ya tidak sial juga. Untuk menghasilkan tiga hal itu, hobi saya masih berkelindan.

Uang saya dapatkan dari hobi bercerita. Saya senang bercerita. Dari bercerita di depan kelas inilah saya dapat uang. Saya selalu semangat kerja, hujan sekalipun. Walaupun kerjaan saya kalau saya tak datang pun tak dihukum, hehe.

Untuk hobi yang membentuk karakter, saya percayakan pada hobi membaca. Saya hanya membaca karya sastra saja. Saya percaya betul sastra akan membuat karakter saya jadi lebih baik. Yang paling banyak saya baca adalah novel dan puisi. Novel yang paling saya suka masih Wuthering Heights karya Emily Bronte. Menonton film juga termasuk perpanjangan dari membaca sastra. Pun saya hobi nonton film.

Urusan kreativitas ini yang agak rumit. Hobi apapun rasa-rasanya menuntut kreatifitas. Saya pikir hobi menulis saya bisa mewujudkan hal ketiga ini.

Bercerita, baca, dan tulis berkelindan satu sama lain. Berarti saya tak hobi mendengar, hehe.

Categories: Nyampah Tags: , ,

Dikiranya kilau, padahal lumrah

Dikiranya syahdu, ia lempar undangan, diundangnya pejabat.

Menurutnya indah, ia bangun panggung penuh uang emisan.

Dikacanya apik, ia panggil temannya yang pemusik.

Dikupingnya merdu, disuruhnya para pemusik itu mengiringi racauannya.

Menurutnya mampu menggetarkan hati, ia lecehkan penonton.

DIpikirnya ini wah, ia undang pembaca puisi pemula.

Dikiranya ia bersinar, ia undang lagi pembaca puisi manula.

Dikiranya puisi, padahal biasa saja.

Categories: Nyampah

Kerja, kerja, kerja…

Dalam bekerja sebaiknya kita menerapkan prinsip “HADITS”. Hadits disini ialah sebuah singkatan. Berikut kepanjangannya,

  1. Hasrat

Hasrat dalam bekerja sangatlah penting. Kerja itu perlu gairah atau passion, tanpa ini bisa mudah bosan dan malas-malasan.

  1. Amanah

Pekerjaan adalah sebuah amanah, sebuah kepercayaan yang diberikan pada kita. Konsep percaya ini sesungguhnya lebih tinggi dari istilah cinta.  Saya pernah mendengar wejangan “Orang yang tidak diberi karunia anak adalah orang yang dicintai Gusti Allah” lalu “ Orang yang diberi karunia anak adalah orang yang dipercaya oleh Gusti Allah”. Penjelasannya, punya anak itu sebetulnya tidak mudah. Misal, yang punya bayi harus bangun tengah malam kalau si bayi haus atau ganti popok. Jam tidur terganggu. Contoh lain, lagi asyik jajan di restoran tiba-tiba si anak muntah atau BAB, repot kan? Masih banyak kerepotan-kerepotan yang lainnya. Yang tidak punya anak berarti tidaklah perlu menghadapi kerepotan-kerepotan tersebut, ia dicintai sang pemberi anak. Tapi kerepotan itu semua terbayarkan dengan kebahagaiaan karena kepercayaan dari Gusti Allah. Analoginya tidak begitu penting hanya untuk menunjukkan bahwa trust itu diatas love. Amanah itu bagian dari kepercayaan. Amanah dalam bekerja ini penting dan harusnya berlanjut pada syukur. Dan syukur berujung pada rajin kerja.

  1. Nah yang ketiga yang D ini lupa apa singkatannya, kayaknya Doa atau Damai.
  2. Langsung yang ke-4 adalah Inter personal.

Hubungan dengan rekan kerja yang lain haruslah dijaga, dibangun, dirawat, diperbaiki. Kalau tidak ada hal-hal yang mengejutkan, kira-kira saya akan bekerja di kantor saya ini sampai 30 tahunan ke depan. Maksudnya dengan rekan-rekan kerja sekarang akan terus berhubungan juga selama itu. Jangan sampai urusan-urusan kecil  dengan rekan kerja membuat situasi kerja terganggu untuk 30 tahun ke depan. Inter personal menjadi penting sekali. Tidak mungkin kita menyenangkan semua orang, akan ada satu dua tiga empat lima orang yang tidak suka dengan kita, tapi hal ini wajar. Konsep agama mengutamakan memaafkan bukan meminta maaf, tapi mengalah meminta maaf untuk hal sepele yang berguna untuk 30 tahun ke depan sungguh tidak rugi.

  1. Tanggung Jawab adalah T dalam HADITS.

Bicara tanggung jawab di dunia kerja akan berbicara TUPOKSI, yaitu tugas pokok dan fungsi karyawan. Setiap orang memiliki tupoksi masing-masing yang harus dikerjakan. Tapi ada baiknya diurutan terakhir masing-masing tupoksi adalah membantu rekan kerja yang lain apabila tanggung jawabnya sudah selesai. Sehingga ketika diminta membantu rekan kerja yang lain masih merupakan tupoksinya juga.

  1. Setia

Setia dalam bekerja tidak berarti tidak boleh nyambi kerja di tempat lain. Tapi tentu harus tahu tempat kerja mana yang lebih priorotas. Prioritas berarti menghabiskan waktu tenaga pikiran di tempat kerja utama. Utama dalam memberikan uang dan kehormatan.

Ini hasil rapat dengan pimpinan. Pemimpin itu memang sebaiknya memberikan wejangan hidup tidak sekedar arahan kerja yang remeh temeh.

Categories: Nyampah Tags:

(Saya tak mau) otonom

Saya tidak berdiri sendiri.

Jalan hidup yang saya tatap penuh dengan jejak-jejak kaki bapak saya.

Hunian pribadi yang saya tempati ini banyak sekali keringat ibuk saya.

Rona rambut saya sekarang hanyalah rancang dari sisiran kakak-kakak saya.

Di punggung saya ini penuh patuh sidik jari kaki adik saya.

Bagaimana mungkin saya mau menentukan arah sendiri?

Senyuman saya ternyata hanyalah versi sama dari senyuman keponakan-keponakan saya.

Di kelopak mata saya dalam istirahat cumepak belaian istri saya

Nyawa saya ini saya bagi rata dengan anak perempuan saya.

Saya tak mau mandiri.

Categories: Nyampah

Nilai

Sekolah formal itu penting bagi saya, yang tidak bisa menemukan ruang pendidikan selain di kelas. Biar pintar? Tidak juga. Sekolah justru mengurangi keluasan ilmu, mungkin memperdalam.

Dari TK sampai SMP banyak pelajaran yang di dapat. Ketika SMP pelajaran matematika, bahasa, IPA dan IPS, kesenian tari, muatan lokal dll dipelajari semua. IPA masih dibagi dua biologi dan fisika. IPS malah dibagi tiga sejarah, ekonomi, dan geografi. Ketika SMP masih bisa tanya saya sejarah VOC, mitokondria, gaya pegas, ibukota Yaman dll.

Lanjut SMA, saya banyak belajar tentang Islam, tentu saja menyita pemahaman yang lain. Menjurus ke IPA, dengan 10 jam seminggu pelajaran matematika. Mulai tidak kenal IPS. VOC itu nama apa? Turki di benua Eropa? Inflasi? Karena sekolah, naik kelas dari SMP ke SMA, justru semakin bodoh IPS.

Setelah lulus SMA, saya kuliah di MIPA matematika UNS. Ketika kuliah, jangankan IPS–sejarah, ekonomi, geografi– pelajaran IPA pun mulai tidak tahu, apalagi bahasa, kesenian dll.

Setahun di matematika, pindah ke sastra UGM. Belajar bahasa Inggris. Pelajaran lain? mending jangan tanya, kalau matematika masih boleh.

Lulus kuliah sempet kerja ngajar. Ilmu kuliah malah semakin dalam.

Kemudian, pindah kerja di bank. Kerja di sini tidak pakai ilmu kuliah. Tidak butuh bahasa Inggris untuk melayani nasabah. Seingat saya hanya dua kali ada nasabah orang asing. Dan tidak perlu sampai kuliah segala untuk melayani nasabah tersebut. Ilmu yang didapat ketika kerja justru ilmu menghadapi orang.

Berhenti kerja lanjut kuliah lagi. Kuliah linguistik penerjemahan. Ilmu pun semakin menyempit. Yang lain-lain lupa.

Pendidikan sekolah sebetulnya menyempitkan keluasan pemahaman. Semakin tinggi semakin tidak luas. Pemahaman semakin tidak banyak.

Inti dari sekolah ialah transfer nilai. Nilai apa? Apa saja.

Seperti halnya agama, ibadah, jabatan, gelar, kedudukan; tingkatan tertinggi pendidikan ialah berbuat baik terhadap sesama. Memudahkan urusan orang lain. Peka dalam menghadapi masalah.

Maksudnya, bila telah profesor tapi mempersulit mahasiswa, menunjukkan belum tercapainya tingkatan tertinggi dari pendidikan.

Categories: Nyampah Tags:

Ayem

ayem itu kondisi puncak dari hati
jangan dilawan dengan kebebasan
ibarat gultor lawan preman, percuma.
adakah yang lebih tinggi dari hati yang tenang?
agama saja mengalah sama kesehatan
iyakah kehebatanmu sebanding?
surga itu hati yang tenang
hati yang ayem, tenteram

Categories: Nyampah
%d bloggers like this: