Archive

Archive for the ‘Nyampah’ Category

bicara, nulis, baca

Find three hobbies:one to keep you money, one to keep you in shape, and one to keep you creative

Tulisan itu saya dapat di akun Ig: @dagelan. Terjemahnnya adalah temukan tiga hobi: satu yang menghasilkan uang, satu yang membentuk (karakter), satu lagi yang membuatmu bisa terus kreatif.

Maksud tulisan itu yang saya tangkap, beruntung kalau orang punya satu hobi saja tapi bisa menghasilkan ketiganya: bisa bikin kaya, baik dalam pembentukan karakter, dan kreativitas tetap terjaga.

Yang kurang beruntung, seperti saya, untuk menghasilkan tiga hal itu hobi tidak sama. Tapi ya tidak sial juga. Untuk menghasilkan tiga hal itu, hobi saya masih berkelindan.

Uang saya dapatkan dari hobi bercerita. Saya senang bercerita. Dari bercerita di depan kelas inilah saya dapat uang. Saya selalu semangat kerja, hujan sekalipun. Walaupun kerjaan saya kalau saya tak datang pun tak dihukum, hehe.

Untuk hobi yang membentuk karakter, saya percayakan pada hobi membaca. Saya hanya membaca karya sastra saja. Saya percaya betul sastra akan membuat karakter saya jadi lebih baik. Yang paling banyak saya baca adalah novel dan puisi. Novel yang paling saya suka masih Wuthering Heights karya Emily Bronte. Menonton film juga termasuk perpanjangan dari membaca sastra. Pun saya hobi nonton film.

Urusan kreativitas ini yang agak rumit. Hobi apapun rasa-rasanya menuntut kreatifitas. Saya pikir hobi menulis saya bisa mewujudkan hal ketiga ini.

Bercerita, baca, dan tulis berkelindan satu sama lain. Berarti saya tak hobi mendengar, hehe.

Categories: Nyampah Tags: , ,

Dikiranya kilau, padahal lumrah

Dikiranya syahdu, ia lempar undangan, diundangnya pejabat.

Menurutnya indah, ia bangun panggung penuh uang emisan.

Dikacanya apik, ia panggil temannya yang pemusik.

Dikupingnya merdu, disuruhnya para pemusik itu mengiringi racauannya.

Menurutnya mampu menggetarkan hati, ia lecehkan penonton.

DIpikirnya ini wah, ia undang pembaca puisi pemula.

Dikiranya ia bersinar, ia undang lagi pembaca puisi manula.

Dikiranya puisi, padahal biasa saja.

Categories: Nyampah

Kerja, kerja, kerja…

Dalam bekerja sebaiknya kita menerapkan prinsip “HADITS”. Hadits disini ialah sebuah singkatan. Berikut kepanjangannya,

  1. Hasrat

Hasrat dalam bekerja sangatlah penting. Kerja itu perlu gairah atau passion, tanpa ini bisa mudah bosan dan malas-malasan.

  1. Amanah

Pekerjaan adalah sebuah amanah, sebuah kepercayaan yang diberikan pada kita. Konsep percaya ini sesungguhnya lebih tinggi dari istilah cinta.  Saya pernah mendengar wejangan “Orang yang tidak diberi karunia anak adalah orang yang dicintai Gusti Allah” lalu “ Orang yang diberi karunia anak adalah orang yang dipercaya oleh Gusti Allah”. Penjelasannya, punya anak itu sebetulnya tidak mudah. Misal, yang punya bayi harus bangun tengah malam kalau si bayi haus atau ganti popok. Jam tidur terganggu. Contoh lain, lagi asyik jajan di restoran tiba-tiba si anak muntah atau BAB, repot kan? Masih banyak kerepotan-kerepotan yang lainnya. Yang tidak punya anak berarti tidaklah perlu menghadapi kerepotan-kerepotan tersebut, ia dicintai sang pemberi anak. Tapi kerepotan itu semua terbayarkan dengan kebahagaiaan karena kepercayaan dari Gusti Allah. Analoginya tidak begitu penting hanya untuk menunjukkan bahwa trust itu diatas love. Amanah itu bagian dari kepercayaan. Amanah dalam bekerja ini penting dan harusnya berlanjut pada syukur. Dan syukur berujung pada rajin kerja.

  1. Nah yang ketiga yang D ini lupa apa singkatannya, kayaknya Doa atau Damai.
  2. Langsung yang ke-4 adalah Inter personal.

Hubungan dengan rekan kerja yang lain haruslah dijaga, dibangun, dirawat, diperbaiki. Kalau tidak ada hal-hal yang mengejutkan, kira-kira saya akan bekerja di kantor saya ini sampai 30 tahunan ke depan. Maksudnya dengan rekan-rekan kerja sekarang akan terus berhubungan juga selama itu. Jangan sampai urusan-urusan kecil  dengan rekan kerja membuat situasi kerja terganggu untuk 30 tahun ke depan. Inter personal menjadi penting sekali. Tidak mungkin kita menyenangkan semua orang, akan ada satu dua tiga empat lima orang yang tidak suka dengan kita, tapi hal ini wajar. Konsep agama mengutamakan memaafkan bukan meminta maaf, tapi mengalah meminta maaf untuk hal sepele yang berguna untuk 30 tahun ke depan sungguh tidak rugi.

  1. Tanggung Jawab adalah T dalam HADITS.

Bicara tanggung jawab di dunia kerja akan berbicara TUPOKSI, yaitu tugas pokok dan fungsi karyawan. Setiap orang memiliki tupoksi masing-masing yang harus dikerjakan. Tapi ada baiknya diurutan terakhir masing-masing tupoksi adalah membantu rekan kerja yang lain apabila tanggung jawabnya sudah selesai. Sehingga ketika diminta membantu rekan kerja yang lain masih merupakan tupoksinya juga.

  1. Setia

Setia dalam bekerja tidak berarti tidak boleh nyambi kerja di tempat lain. Tapi tentu harus tahu tempat kerja mana yang lebih priorotas. Prioritas berarti menghabiskan waktu tenaga pikiran di tempat kerja utama. Utama dalam memberikan uang dan kehormatan.

Ini hasil rapat dengan pimpinan. Pemimpin itu memang sebaiknya memberikan wejangan hidup tidak sekedar arahan kerja yang remeh temeh.

Categories: Nyampah Tags:

(Saya tak mau) otonom

Saya tidak berdiri sendiri.

Jalan hidup yang saya tatap penuh dengan jejak-jejak kaki bapak saya.

Hunian pribadi yang saya tempati ini banyak sekali keringat ibuk saya.

Rona rambut saya sekarang hanyalah rancang dari sisiran kakak-kakak saya.

Di punggung saya ini penuh patuh sidik jari kaki adik saya.

Bagaimana mungkin saya mau menentukan arah sendiri?

Senyuman saya ternyata hanyalah versi sama dari senyuman keponakan-keponakan saya.

Di kelopak mata saya dalam istirahat cumepak belaian istri saya

Nyawa saya ini saya bagi rata dengan anak perempuan saya.

Saya tak mau mandiri.

Categories: Nyampah

Nilai

Sekolah formal itu penting bagi saya, yang tidak bisa menemukan ruang pendidikan selain di kelas. Biar pintar? Tidak juga. Sekolah justru mengurangi keluasan ilmu, mungkin memperdalam.

Dari TK sampai SMP banyak pelajaran yang di dapat. Ketika SMP pelajaran matematika, bahasa, IPA dan IPS, kesenian tari, muatan lokal dll dipelajari semua. IPA masih dibagi dua biologi dan fisika. IPS malah dibagi tiga sejarah, ekonomi, dan geografi. Ketika SMP masih bisa tanya saya sejarah VOC, mitokondria, gaya pegas, ibukota Yaman dll.

Lanjut SMA, saya banyak belajar tentang Islam, tentu saja menyita pemahaman yang lain. Menjurus ke IPA, dengan 10 jam seminggu pelajaran matematika. Mulai tidak kenal IPS. VOC itu nama apa? Turki di benua Eropa? Inflasi? Karena sekolah, naik kelas dari SMP ke SMA, justru semakin bodoh IPS.

Setelah lulus SMA, saya kuliah di MIPA matematika UNS. Ketika kuliah, jangankan IPS–sejarah, ekonomi, geografi– pelajaran IPA pun mulai tidak tahu, apalagi bahasa, kesenian dll.

Setahun di matematika, pindah ke sastra UGM. Belajar bahasa Inggris. Pelajaran lain? mending jangan tanya, kalau matematika masih boleh.

Lulus kuliah sempet kerja ngajar. Ilmu kuliah malah semakin dalam.

Kemudian, pindah kerja di bank. Kerja di sini tidak pakai ilmu kuliah. Tidak butuh bahasa Inggris untuk melayani nasabah. Seingat saya hanya dua kali ada nasabah orang asing. Dan tidak perlu sampai kuliah segala untuk melayani nasabah tersebut. Ilmu yang didapat ketika kerja justru ilmu menghadapi orang.

Berhenti kerja lanjut kuliah lagi. Kuliah linguistik penerjemahan. Ilmu pun semakin menyempit. Yang lain-lain lupa.

Pendidikan sekolah sebetulnya menyempitkan keluasan pemahaman. Semakin tinggi semakin tidak luas. Pemahaman semakin tidak banyak.

Inti dari sekolah ialah transfer nilai. Nilai apa? Apa saja.

Seperti halnya agama, ibadah, jabatan, gelar, kedudukan; tingkatan tertinggi pendidikan ialah berbuat baik terhadap sesama. Memudahkan urusan orang lain. Peka dalam menghadapi masalah.

Maksudnya, bila telah profesor tapi mempersulit mahasiswa, menunjukkan belum tercapainya tingkatan tertinggi dari pendidikan.

Categories: Nyampah Tags:

Ayem

ayem itu kondisi puncak dari hati
jangan dilawan dengan kebebasan
ibarat gultor lawan preman, percuma.
adakah yang lebih tinggi dari hati yang tenang?
agama saja mengalah sama kesehatan
iyakah kehebatanmu sebanding?
surga itu hati yang tenang
hati yang ayem, tenteram

Categories: Nyampah

Anjing dan Tahlilan

Sebelum berita di TV, mengenai demo yang melarang sebuah majelis untuk mengadakan pengajian akbar sekaligus pembukaan cabang barunya di Kudus, saya sudah mendengar kabar dari teman saya yang ikut langsung di acara tersebut. Namun, pemberitaan di TV agak lebay, katanya dibubarkan, padahal yang betul acara sudah selesai dan memang bubar dengan sendirinya. Berita TV tidak menyebutkan ormas yang dimaksud. Mereka ialah PMII dan Banser NU. PMII itu organisasi apa saya juga ndak tahu, malas googling juga, kalau Banser NU jelas sayapnya NU. Konon, beberapa orang NU terkenal karena pluralisnya, seperti Gus Dur dan Ulil.

Majelis yang katanya pengajiannya dibubarkan itu namanya MTA, Majelis Tafsir Al Quran yang berpusat di Solo. Saya suka pengajiannya, ustadznya pintar-pintar. Setiap minggu di Mangkunegaran pengajiannya selalu penuh, ribuan orang hadir. Tidak gampang mengumpulkan massa berjumlah ribuan untuk pengajian. Untuk dangdut koplo mungkin mudah. Walaupun saya suka pengajian MTA, tapi ada beberapa hal dalam berislam saya kurang cocok, seperti sholat tarweh 11 rakaat dengan formasi 2-2-2-2-3, saya lebih suka 4-4-3. Mengenai penentuan hari lebaran juga sering kurang cocok, karena MTA ini selalu mengikuti pemerintah dan biasanya berbeda dengan Muhammadiyah. Ya, saya kader Muhammadiyah, tapi saya juga selalu mengikuti pengajian MTA.

Kenapa MTA didemo dan dilarang pengajiannya di Kudus? Menurut siaran berita di Trans berdasarkan wawancara langsung di tempat, ialah mengenai anjing yang katanya dihalalkan oleh MTA dan mengenai tahlilan yang enggan dilakukan oleh MTA.

Pertama mengenai anjing, kebetulan saya pernah ikut langsung pengajian MTA ketika membahas anjing. Memang mereka sedikit berbeda pendapat dengan beberapa pemahaman yang lain. Dari kecil kita sudah dicekoki dengan betapa haramnya anjing itu. Begitu kena liurnya harus dicuci 7 kali dan salah satunya dengan tanah. Ada cerita menarik ketika kos di jogja, teman saya muslim memelihara anjing di kos. Setiap selesai memegang anjingnya teman saya itu malah membersihkannya 7 kali dengan tanah semua. Padahal pelajaran waktu kecil dalam membersihkan liur anjing, yang menggunakan tanah itu hanya sekali dan bebas mau diletakkan yang pertama ataupun terakhir. Lucu aja, hehehe. Nah, bagaimana pandangan MTA tentang anjing ini? Liur anjing yang terkena badan tidak haram dan tidak harus dicuci 7 kali, kecuali jika liur tersebut mengenai tempat (bejana, kata dalah hadits) air. Apabila bejana air terjilat maka bejananya wajib dicuci 7 kali. Sang ustadz berpendapat tidak menemukan hadits lain selain bejana ini saja. Bahkan ada hadits shahih mengenai halalnya hewan buruan yang ditangkap dengan anjing. Maksudnya ketika berburu, sebelum melepas anjing membaca bismillah maka halal daging buruan tersebut. Tentu saja hewan buruan itu tergigit anjing dan liurnya pasti kena. Namun, dalam hadits tersebut tidak diperintahkan untuk mencuci 7 kali alias boleh langsung dimasak dan dinikmati. Nah, berpegang pada hadits ketika berburu inilah maka sang ustadz tidak mengharamkan liur anjing, bahkan dicontohkan misalnya ketika akan ke masjid dan ditengah jalan terkena liur anjing maka cukup dibersihkan liurnya tanpa harus mengulang wudhu. Liur anjing tidak membatalkan wudhu. Akan tetapi ini masuk akal juga, seandainya ada hadits ini maka jaman Nabi dulu juga memelihara anjing. Seandainya memelihara tentu serawungan juga, tetapi tidak pernah disebutkan apakah Nabi memelihara anjing. Maksud saya sejak jaman dulu anjing sudah menjadi hewan peliharaan dan Nabi tahu itu, sehingga ada hadits tentang berburu menggunakan anjing. Menurut saya masuk akal, tapi kalau yang lain tidak cocok ya tidak masalah. Saya jadi bisa melihara anjing, xixixixi. Jadi mungkin yang dimaksud pendemo tersebut ialah perbedaan pandangan mengenai anjing ini.

Mengenai tahlilan, sebetulnya bukan MTA saja, Muhammadiyah juga tidak tahlilan. Tahlil itu kalimat yang harus selalu diucapkan sebagai pengingat pada Allah SWT. Bahkan jika di akhir hayat mampu mengucapkannya dijamin surga. Akan tetapi, tahlilan sebagaimana yang dilakukan memang tidak ada tuntunannya. Prof Quraish Shihab juga mengatakan memang tidak ada tuntunannya. Ini merupakan tradisi budaya NU. Said Agil di TVOne pun pernah mengatakan hal yang sama. Jadi telah ditegaskan, tahlilan ialah tradisi budaya yang baik, jadi bukan merupakan suatu ibadah. Ibadah yang diada-adakan itu bid’ah. Urusan ibadah cari tuntunannya, urusan dunia cari larangannya. Maksudnya segala hal ibadah ikuti Nabi dan harus ada tuntunananya. Jika ibadah tidak ada tuntunannya maka termasuk bid’ah. Bid’ah itu finnar kata al ustadz. Contoh, sholat magrib jika dikerjakan 4 rakaat maka termasuk bid’ah. Karena tuntunannya magrib ialah 3 rakaat dan sholat magrib ialah ibadah. Mengenai urusan dunia cari larangannya. Misalnya pakai ponsel, ini bukan bid’ah karena bukan termasuk ibadah. Ini termasuk dalam urusan dunia yang tak ada larangannya maka halal. Hal ini berlaku untuk hal-hal duniawi lainnya. Jadi bid’ah atau bukan itu apakah termasuk ibadah atau bukan. Jadi, menurut saya pribadi, tahlil jika memang tradisi kultural maka bukanlah bid’ah.

Jangan menyalahkan pendemo, mereka sedang ber’ibadah’. Mereka sedang menjaga keluarganya dari paham lain yang tidak cocok. Hal yang sama mungkin saya lakukan jika mereka mengajak-ajak keluarga saya untuk tahlilan. Kalau hanya tahlilan di deket rumah saya tanpa mengajak-ajak keluarga saya, sama sekali bukan masalah dan silakan saja. Dan setahu saya MTA itu kalem, tidak suka mengajak atau memaksa ikut paham mereka. Bagimu amalanmu bagiku amalanku.

Oya, soto kudus sudah tidak enak lagi di lidah saya!

%d bloggers like this: