Membeli Kucing dalam Karung–sebuah cerita tradisonal

Membeli Kucing dalam karung adalah kiasan dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna awal yang berkaitan dengan jual beli atau berdagang. Maksudnya pembeli harus meneliti secara detil barang yang hendak dibeli. Jangan sampai apa yang dibeli tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kiasan ini terus meluas tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga sampai pada pemilihan apapun, misal memilih pasangan hidup, pemimpin, wakil rakyat, dll.

Istilah yang digunakan adalah “membeli”. Ada apa dengan “membeli”? Mungkinkah karena mayoritas masyarakat Indonesia itu muslim. Dalam Islam, sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada di  jual beli atau perdagangan. Atau ada kemungkinan yang lain seperti betapa konsumtifnya kita, sehingga alam bawah sadar kita menggunakan kiasan beli bukan produksi atau membuat.

Dari ribuan jenis binatang di Indonesia mengapa kucing yang dipilih. Kenapa bukan membeli anjing atau anoa atau yang lainnya. Kenapa pula pembungkusnya harus karung? Kurungan hewan dari bambu juga ada. Yang jelas sejak dahulu kala sampai sekarang di Indonesia kucing diperdagangkan. Karung ini sesuatu yang tertutup, jadi tidak tampak dari luar apabila kucing dimasukkan di dalamnya. Lebih lanjut, kemungkinan perdagangan kucing ini adalah sesuatu yang tabu yakni untuk dikonsumsi dagingnya bukan sekadar hewan peliharaan, yaitu sesuatu yang tidak lazim jika dilihat dari nilai-nilai sosial budaya yang dianut masyarakat tertentu. Di Indonesia secara umum, kucing bukanlah hewan untuk dikonsumsi, tetapi di daerah tertentu, seperti Manado, sebagian masyarakatnya mengonsumsi daging kucing. Jadi, bisa dilihat bahawa kucing dahulu kala diperdagangkan untuk di konsumsi, karena hal tersebut tabu, maka proses jual belinya pun sembunyi-sembunyi dengan menggunakan karung.

Cerita tradisonal merupakan sebuah “projecting expectations through narrative”. Si pendongeng cerita bisa saja sedang mengingatkan pada para pelaku jual beli untuk menggunakan karung agar tidak tercakar.

Saya yakin setiap hal itu ada ceritanya.

Categories: Uncategorized

(Saya tak mau) otonom

Saya tidak berdiri sendiri.

Jalan hidup yang saya tatap penuh dengan jejak-jejak kaki bapak saya.

Hunian pribadi yang saya tempati ini banyak sekali keringat ibuk saya.

Rona rambut saya sekarang hanyalah rancang dari sisiran kakak-kakak saya.

Di punggung saya ini penuh patuh sidik jari kaki adik saya.

Bagaimana mungkin saya mau menentukan arah sendiri?

Senyuman saya ternyata hanyalah versi sama dari senyuman keponakan-keponakan saya.

Di kelopak mata saya dalam istirahat cumepak belaian istri saya

Nyawa saya ini saya bagi rata dengan anak perempuan saya.

Saya tak mau mandiri.

Categories: Nyampah

si tuan anjing

Si anjing patuh pada si tuan,
tanpa tahu tangan tuannya.
Ia di sini, pun cerita tuannya nyaring,
tak doyan daging merah apalagi tulang.
Santapannya harapan, cita-cita, rencana dan narasi si tuan.

Categories: Uncategorized

mimpi

mimpi saya muluk-muluk,

suatu saat nanti saya ingin hanya di rumah saja sambil baca-baca novel atau nonton film.

 

Hold fast to dreams
For if dreams die
Life is a broken-winged bird
That cannot fly.

   Langston Hughes – dreams

 

Categories: Uncategorized

Mudik kali ini…

Tanggal 9 Nop saya sudah ujian tesis. Dinyatakan lulus tapi belum tahu nilainya. Semoga dapat nilai A. Lanjut revisi dan sekarang tinggal menunggu direktur pasca kembali dari Jerman. Biar segera ditandangani Pak direktur lalu daftar wisuda Maret.

Mudik kali ini boyongan. Saya pulang bawa istri dan anak. Barang bawaan yang banyak pula. Mudahan tidak kelebihan bagasi di pesawat.

Mudik kali ini ditemani ibuk dan budhe juga. Ibuk mampir dari Bandung. Budhe ikut, awalnya karena di kira cuma saya bertiga, katanya kasihan nanti tidak ada yang gantian gendong Malika, cucunya.

Mudik besok ini tidaklah sederhana. Istri saya harus berhenti dari kerjaannya yang sudah 4-5 tahun. Saya tahu istri saya suka pekerjaannya sebagai manajer koperasi. Insy di Samarinda sudah ada pekerjaan baru di suatu sekolah.

Mudik kali ini membuat galau keluarga mertua. Ibu mertua ikut merawat Malika dari bayi. Berat ditinggal malika, katanya. Insy kalau sudah pindah ke rumah sendiri ibu mertua mau menengok ke Samarinda.

Mudik sekarang ini beda.

Categories: Uncategorized

Anting baru!

1 September 2012. Malika tepat usia sebulan. Sudah siap untuk ditindik. Biar bisa pakai anting-anting.

Ketika si genduk lahir tanggal 1 Agustus 2012, kakak perempuan sudah mengingatkan segera ditindik di RS saja. Semakin lama nanti semakin kesakitan. Mumpung gerakannya belum banyak, jadi segera saja. Namun, bidan di PKU menolak untuk menindik, “Tunggu sebulan aja, kasian masih kecil,” katanya. Sebagai awam, manut!

Anting emas sudah siap, setengah gram. Sayang sekali, tidak ada model anting yang lucu khusus bayi. Hanya ada dua macam bentuk sederhana. Padahal kalau ada, saya ingin beli yang model unik, biar seru!

Tindik di tempat bidan Mamik. Kebetulan tempatnya dekat. Ini bidan terkenal, buanyak kenalan yang merekomendasikan si bidan ini.

Si genduk jerit-jerit. Suaranya miris.

Biayanya 20 ribu. Bidannya ramah.

Kalau si genduk sudah agak besar, nanti insy ayah belikan anting yang lebih bagus ya…

Image(Anting baru!)

Categories: Malika

Si genduk di gundul

31 Agustus 2012,

Sesuai judul, hari ini si genduk Malika di gundul. Katanya rambut bayi memang harus di gundul biar tumbuhnya bagus. Sekali lagi katanya. Diperkuat dengan salah satu tuntunan di hari ke-7 kelahirannya, dicukur rambutnya. Hanya saja, seremonial dicukur sedikit rambutnya. Padahal maksud hadist mungkin di cukur gundul pada hari ke-7 kelahirannya.

Malika di gundul yangti tadi siang. Ketika saya jumatan. Pulang jumatan tau-tau sudah gundul. Kakung pulang jumatan terbahak-bahak, katanya mirip banget saya, ayahnya. Hoohoho. Malika anak ayah!

Image(besok siap-siap ditindik :p)

Categories: Malika