Archive

Archive for August, 2012

Si genduk di gundul

31 Agustus 2012,

Sesuai judul, hari ini si genduk Malika di gundul. Katanya rambut bayi memang harus di gundul biar tumbuhnya bagus. Sekali lagi katanya. Diperkuat dengan salah satu tuntunan di hari ke-7 kelahirannya, dicukur rambutnya. Hanya saja, seremonial dicukur sedikit rambutnya. Padahal maksud hadist mungkin di cukur gundul pada hari ke-7 kelahirannya.

Malika di gundul yangti tadi siang. Ketika saya jumatan. Pulang jumatan tau-tau sudah gundul. Kakung pulang jumatan terbahak-bahak, katanya mirip banget saya, ayahnya. Hoohoho. Malika anak ayah!

Image(besok siap-siap ditindik :p)

Advertisements
Categories: Malika

Mudik lebaran

Usia 27 tahun, tahun 1433 H ini, pertama kalinya tidak lebaran di rumah. Rasanya berat. Biasanya, bareng ke-6 ponakan saya yang masih kecil-kecil, saya sholat id di lapangan. Setiap mudik saya banyak menghabiskan waktu bermain dengan 6 keponakan saya.

Biasanya, makan opor buatan ibuk. Selalu teringat kata-kata Rudi Choiruddin, pakar masak di TV, katanya masakan itu kalau dimasak dengan penuh rasa ikhlas dan cinta akan terasa enak bagi yang makan. Pantas saja tidak ada yang mengalahkan opor buatan ibuk!

Biasanya bertemu kawan dari kecil sekitar rumah. Sekedar cerita-cerita atau main bilyar.

Tidak mudik karena ada Malika, putri kecil yang belum kuat naik pesawat.

Yang paling bikin berkaca-kaca ialah sms bapak ibuk. Bapak bilang pulang saja sendirian kalau Malika belum bisa naik pesawat. Pilihan ini sulit. Masa‘ anak selucu itu ditinggal, hehehe.

Sms ibuk yang paling mengena, “Pulang saja dg anak istrimu mumpung istrimu cuti gimana ibu carikan tiket bertiga ya, puasa/hari raya gak ada kamu gak enak juga. makan ramai2.

Untung ada Malika. Kemarin rewel terus, setelah puput. Nah, tadi ikut ke lapangan sholat id kok ndak rewel blas. Anak pinter. Tapi, ketika siang tetap njerit-njerit hohoho.

Lebaran paling wah ialah anak istri bisa di bawa kumpul ke Samarinda. Saya kangen ponakan-ponakan.

Categories: Lebaran

Gendong terus

18 hari, malika mulai rewel. Harus digendong. Diselehke nangis jerit-jerit, kayak disiksa. Gendongnya pun khusus. Tanpa bantal, kepalanya langsung nempel tangan. Tidak mau datar, harus miring sekitar 45 derajat, sedikit seperti posisi duduk.

Image(Digendong yangti. Yangti dicrop soale gak pake jilbab :p)

Categories: Malika

Puput sudah

Yang ditunggu akhirnya puput juga. Tali pusar Malika puput.

Ketika pulang dari RS, bidan memberitahu berbagai pesan untuk merawat Malika. Termasuk mengenai penanganan tali pusarnya. Menurut bidan, karena perempuan kemungkinan puputnya lebih cepat, yaitu 6 hari. Namun sampai hari ke-6 belum puput juga. Ibuk dan kedua kakak perempuan saya sempat sms menanyakan mengenai tali pusar. “Kok belum puput2 ya? Bunyi sms mereka.

Pun, penanganan tali pusar mengalami perubahan. Dahulu jaman ibuk saya, tali puser harus ditutup rapat dengan kasa diberi alkohol. Sekarang, dibiarkan terbuka biar cepat puput.  Dulu, dibasahi pas mandi biar cepet puput. Sekarang, jangan direndam air nanti lama puputnya.

Kalau coro ndeso, lamanya ini disebabkan pola makan si ibu yang salah. Istri saya sempat dilarang makan makanan yang bergizi seperti ikan, ayam, telur, dll. Hanya sayur dan nasi. Saya tidak setuju karena kuatir kualitas ASI menurun.

Semakin cepat puput lebih baik. Mungkin karena si bayi risi, ada yang mengganjal bila belum puput. Ditengkurapkan pun lebih rileks perutnya. Mungkin.

Menurut analisis abal-abal dari saya, tali pusar itu sumber makanan si bayi ketika baru lahir. Teringat kata bidan, bayi baru lahir 3 hari tidak diberi makan atau minum tidak apa-apa. Jadi, seandainya ASI bayi baru lahir baik, maka tidak perlu mengambil cadangan makanan dari pusarnya. Semakin lama pula puputnya. Cadangan di pusar tidak diserap-serap. Sekali lagi, ini abal-abal.

Malika puput setelah 17 hari, tepat 17 Agustus 2012. Sebetulnya, ndak penting juga kapan tanggal puputnya, selain iseng dan bisa jadi bahan omongan suatu saat nanti, hohoho!

Categories: Malika

Pemberian nama

Yang seru dari kelahiran Malika ialah pemberian namanya. Sebelum tahu jenis kelaminnya, saya menyiapkan dua nama, cewek dan cowok. Awalnya, kalau cowok hendak saya beri nama ‘Izrail’. Namun, ada buku yang mengatakan jangan memberi nama malaikat, karena sudah beda makhluk. Konon menurut pelajaran agama waktu SD ialah nama malaikat pencabut nyawa. Setelah mencari informasi, di Al-Quran tidak pernah sekalipun menyebut nama Izrail, entah siapa yang menamainya. Malaikat pencabut nyawa disebut malaikat maut. Kalaupun iya, tidak serta merta pula ia bakal menjadi malaikat pencabut nyawa. Lagipula, filosofi dari cerita malaikat ini ialah kepatuhan. Konon, setelah mencabut nyawa semua makhluk hidup, ia mencabut nyawanya sendiri. Mencabut nyawa sendiri simbol kepatuhan. Sudahlah, toh hasil USG perempuan. Selain nama Izrail, saya menyiapkan nama Almer untuk persiapan jika laki-laki. Mengapa Almer? Karena indah menurut saya.

Nama Malika saya temukan di kaskus. Ada yang buat thread tentang nama anaknya disertai maknanya. Ada yang menambah dengan potonya pula. Begitu lihat nama Malika, saya dan istri langsung suka. Nama yang indah. Maknanya? Belum tahu. Setelah itu baru cari info di internet. Menurut bahasa sansekerta konon artinya bunga. Menurut bahasa Hungaria, konon artinya rajin. Ada yang menyebut artinya putri juga. Konon memang, karena info di internet validasinya belum di uji. Artinya baik-baik, tidak bermakna negatif. Tapi sebetulnya saya tidak urusan dengan permaknaan yang ribet. Bagi saya cukup keindahan nama Malika. Apalagi dengan nama Allah ‘maliki’ yang artinya raja. Kecuali dengan penanda Al. Itu yang menunjukkan kekhususan, contoh Al Maliki, Al Latif dll. Kalau Malika saja, saya rasa tidak. Kalau laki-laki biasanya dengan menambahi abdul.

Lituhayu diambil dari bahasa Jawa.  Jauh hari sebelumnya istri memang berniat untuk memberikan nama jawa. Sudah saya cek di kamus bahasa Jawa, artinya cantik. Kepanjangan dari ayu. Unik, saya setuju.

Selain Malika, saya menyiapkan nama Ayem. Apa yang lebih nyaman dari hati yang ayem? Tidak ada. Namun, semua menentang nama ini. Bapak ibuk, mertua, kakak, ipar, dll; tidak setuju. Istri saya bahkan sampai nangis magep-magep untuk menolak nama ini. Biasanya saya kalau dilarang semakin nekat. Tapi kali ini tidak, saya ikuti saran mereka. Nama Ayem saya simpan di hati :p.

Nama sudah dapat Malika Lituhayu. Saya ingin namanya terdiri dari 3 kata. Perlu ditambahi tengahnya. Tidak ketemu yang pas di hati. Saya pun minta saran ke keluarga untuk mengusulkan satu nama, dengan syarat kalau tidak dipakai tidak apa-apa, hehehe.

Bapak usul radiya dan husna. Arti keduanya bagus, tapi kurang sreg. Artinya semoga diridhoi. Yang Husna saya lupa artinya.

Ibuk usul Bilqis dan Qurotta a’yun. Nama ratu nabi Sulaiman dan penyejuk hati.

Kakak perempuan saya yang pertama usul Sarah. Saya suka. Hanya saja bagusnya jadi nama utama. Mungkin bisa jadi pertimbangan bila diberi rezeki anak lagi.

Kakak perempuan yang kedua usul layyin. Artinya lembut. Nama ini saya bingung apakah nama perempuan atau laki-laki. Jangan-jangan  kalau perempuan jadi layinah atau bentuk lain.

Adik ipar usul Aqila dan Agustina. Nama Agustina tidak saya pertimbangkan :p.

Hasil lobi ibuk selama di rumah sakit terplihlah nama Bilqis. Kata ibuk, ratu ini selalu mengedepankan musyawarah dll.

Ketika aqiqah resmi diberi nama “Malika Bilqis Lituhayu”. Mudahan menjadi putri yang sholehah dan penyejuk hati.

Robbanaa hablanaa min azwajinaa wa dzurriyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaama (QS Al Furqan 74)

Malika Bilqis Lituhayu

Saya menikah tanggal 2 Oktober 2011, langsung berencana memiliki anak. Sebulan setelah menikah ternyata istri saya belum hamil. Saya mulai cari info dari internet dan tanya ke keluarga. Dari banyak artikel dan saran, ada satu saran yang berkaitan, yaitu hindari rokok. Sebagai perokok berat, tanpa basa basi saya langsung berhenti. Konon rokok dapat melemahkan sperma. Tidak ada rasa berat ketika berhenti. Persis ketika puasa, keinginan merokok hilang sendirinya.

Alhamdulillah istri saya hamil. Namun, kehamilan baru diketahui setelah berusia sekitar 2 bulan. Tes dilakukan pada tanggal 1 januari 2012, lalu langsung cek ke dokter untuk USG. Memang terlambat. Karena sempat saya kira istri saya haid, ternyata flek tanda hamil.

Sejak saat itu hidup saya jadi berdebar-debar. Saya selalu mengantar kontrol setiap bulan. Mulai dari sebulan sekali hingga seminggu sekali. Istri saya rajin minum susu. Anmum 400 gr rasa coklat habis setiap 10 hari. Tidak lupa vitamin dari dokter selalu diminum. Jenis kelamin telah diketahui, perempuan. Hpl tanggal 4 Agustus 2012.

Dar der dor! Saat kelahiran tiba. Pagi-pagi tanggal 1 Agustus sekitar pukul 6, kasur saya basah kuyup. Ternyata air ketuban telah pecah. Duh, menurut info internet resiko kuman masuk besar. Segera saya bawa ke RS PKU. Langsung masuk ruang bersalin. Sudah pembukaan 1 (maksudnya satu cm). Diinfus antibiotik untuk daya tahan tubuh bayi dari kuman karena ketuban telah pecah. Kamar sempat penuh, tapi akhirnya dapat juga kelas 1, menengah pas. Oya, sampai pecah ketuban dan bukaan 1, istri saya tidak mengalami sakit sama sekali.

Setelah disuntik berbagai macam, entah apa namanya. Proses pembukaan berlangsung. Istri saya mulai kesakitan. Awalnya jeda antar sakit cukup untuk saya baca koran. Namun, kemudian hanya sempat untuk membaca judul artikel di koran saja. Setiap kesakitan saya harus menggosokkan minyak ke punggungnya untuk mengurangi nyeri. Empat jam kesakitan pembukaan berjalan pelan, baru bukaan tiga. Walaupun, kata tante-tante saya itu termasuk cepat.

Ketika sedang sakit-sakitnya, ibuk dan bude datang. Bude langsung memberitahu tentang ILA. Suntik pereda nyeri. Melihat istri yang sedang kesakitan, saran itu saya pertimbangkan juga. Saya belum ada info tentang ILA. Hanya saja, syaratnya harus setelah bukaan tiga. Tapi jika sudah bukaan lima sudah tidak boleh suntik ILA. Akhirnya setelah sholat duhur, dengan Bismillah saya tanda tangani surat pernyataan bersedia menggunakan ILA. Tarifnya sekitar dua jutaan. Ada kekuatiran apa iya segitu hebatnya ILA bisa menghilangkan nyeri istri saya. Saya sempat sms kedua kakak saya, yang sudah pengalaman masing-masing tiga kali melahirkan, mengenai ILA. Hasilnya cukup melegakan, ternyata ILA populer, kedua kakak perempuan saya tahu.

Ternyata benar, setelah disuntik istri saya tidak sakit sama sekali. Bahkan bisa lahap makan. Bukaan pun melaju kencang. Setelah tiga, langsung lima, delapan dan sepuluh. Ya, sepuluh berarti siap lahir.

Proses persalinan disiapkan. Satu dokter dan 3 orang, mungkin bidan mungkin perawat, bersiap. Saya menemani. Yang paling horor ialah lihat darah terus keluar sekitar sebaskom.

Lahirlah Malika tanpa operasi.

lahir ceprot, baru dilapi, langsung melirik

(baru dilapi, masih berdarah-darah)

Karena Malika tidak langsung menangis, maka perlu perawatan khusus. Menangisnya setelah sekitar 3 (tiga) detik sejak keluar terus ditaruh di perut miminya. Ada jeda tidak menangis itu ternyata perlu perawatan khusus. Begitu pula karena pecah ketuban terlebih dahulu. Masuk ruang restitusi, langsung ditangani spesialis anak. Kemudian harus pula masuk ruang PICU (atau mungkin PICCU, lupa), untuk observasi. Mengecek kemungkinan ada kelainan pada si bayi. Ruangannya khusus. Hanya orang tua yang boleh menjenguk. Masuk harus pakai baju khusus dan wajib cuci tangan. Pengunjung lain hanya boleh melihat dari luar kaca.

Selama di ruang khusus, saya sempat menandatangani kesedian untuk Malika diberi sufor. Tidak ada pilihan lain, ASI belum keluar. Sudah dipijat, makan marneng, minum ekstrak daun katuk, minum kacang ijo, dll, tetap ASI belum keluar. Meskipun bayi lahir tahan 3 hari tanpa makan minum, tidak tega juga dibiarkan nangis kehausan. Namun tidak lama, hari ke-3 ASI nya keluar dan berlimpah. Alhamdulillah, nenen-nya rutin dan banyak.

Akhirnya Malika boleh sekamar dengan mimi-nya. Tidurnya pun langsung nyenyak.

(wajahnya tenang banget)